Trie Setyaningsih

Banyak jalan menuju kesempurnaan



Beberapa Pandangan Tentang Filsafat
Filsafat mempunyai makna yang banyak jumlahnya bagi pelbagai orang dan pada pelbagai masa di dalam sejarah manusia. Telah banyak definisi yang dicoba untuk dibuat dan banyak pula yang telah membatasi corak-corak pertanyaan yang diajukan oleh seorang filsuf. Selama sejarah peradaban barat, filsafat dipandang meliputi setiap hal, mulai dari sikap pribadi orang terhadap dunia di sekitarnya sampai dengan seluruh jumlah pengetahuan manusia. Aristoteles menulis tentang metafisika, etika, politik, biologi, fisika, bahasa, sebagainya. Dewasa ini ada yang hendak membatasi lingkup filsafat agar hanya berkisar pada pertanyaan-pertanyaan tentang logika sintaksiss. Sebaliknya, oleh Hocking, filsafat diberi Definisi:
“filsafat, menurut pemahaman saya, pertama-tama merupakan suatu penelitian tentang kepercayaan, yakni kepercayaan sebagai paham yang kita hayati yang berbeda dari paham yang kita pertimbangkan. Upaya mengadakan kritik berulang-ulang terhadap pelbagai kepercayaan kita yang utama ini mendorong kita ke arah suatu kepercayaan yang bersifat menyeluruh mengenai dunia kita hidup, sehingga filsafat menjadi penafsiaran yang bersifat umum mengenai pengalaman. Melukiskan pengalaman merupakan usaha kita, dan yang bertujuan untuk melukiskan secara benar, satu penyelidikan yang kritis, yang logis dan tepat mengenai kategori-kategori, tetapi melukiskan itu saja tidak cukup, kecuali jika nelukiskan itu juga berarti menjelaskan. Karena pada akhirnya keharusan untuk memahami itulah yang mendorong kita ke arah filsafat, dan apapun penafsiran manusia terhadap dunia, bagi mereka hal itu merupakan filsafat, baik kita mengakuinya secara demikian maupun tidak.”

Hal ini memberikan kepada kita gambaran mengenai filsafat sebagai suatu percobaan. Katakanlah, untuk keluar dan berada di atas dunia yang kita diami, serta memandang dunia itu dari sudut pandangan yang lebih tinggi. Pandangan yang demikian erat hubungannya dengan pandangan Spinoza yang berpendirian bahwa seorang filsuf harus melihat segala hal yakni dari segi keabadian.

Filsafat dan Peradaban
Sementara orang ada yang membantah dan mengatakan, mereka yang menganut filsafat, yang mengeluarkan mereka dari dunia ini, merupakan orang-orang yang melarikan diri. Banyak yang beranggapan bahwa filsafat yang sebenarnya secara intrinsik menyatu dari percobaan manusia untuk menghadapi pertentangan-pertentangan, kekalahan-kekalahan serta kemenangan-kemenangan dalam hidup. Sebagaimana dikatakan John Dewey (1859-952) filsafat dari satu masa harus dipandang sebagai suatu ungkapan perjuangan manusia di dalam
Usaha yang sudah lama dan selalu baru, untuk menyesuaikan sebagian terbesar tradisi yang membentuk akal pikiran manusia yang sesungguhnya (pada suatu waktu) dengan kecenderungan-kecenderungan ilmiah, serta hasrat-hasrat politik yang baru dan yang tidak cocok dengan otoritas-otoritas yang telah diterima.

Filsafat merupakan perjuangan yang berlangsung terus menerus untuk menyesuaikan yang lama dengan yang baru di dalam suatu kebudayaan. Jadi bagi Dewey, filsafat ialah suatu percobaan untuk mengadakan penyesuaian terhadap fakta perubahan kebudayaan. Tanpa percobaan itu, kehidupan manusia berada dalam bahaya. Filsafat adalah hasil yang berasal dari hasrat atau lebih tepat disebut tuntutan, yang menginginkan bahwa hidup itu mengandung makna. Karena tanpa tuntutan tersebut, kita akan binasa.

Demikianlah menurut hemat Dewey. Tetapi kita harus ingat, bagi Dewey, filsafat mempunyai dua segi: filsafat melihat ke masa yang lampau tetapi juga ke masa yang akan datang. Seorang filsuf juga mencoba untuk menetapkan pola-pola yang harus diikuti di dalam pikiran serta tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Ditinjau dari sudut pandang ini, filsafat merupakan suatu perabot yang harus dipergunakan untuk mengubah eksistensi, dan bukan hanya untuk memahaminya.

Filsafat Sebagai Usaha Untuk Mengetahui
Erat hubungannya dengan konsepsi Aristoteles mengenai filsafat ialah, konsepsi yang dianut oleh Jacques Maritain. Filsuf Katholik ini menitikberatkan pada segi usaha menegetahui dari Filsafat. Jacques Maritain antara lain mengatakan:
“filsafat bukanlah suatu kebijaksanaan mengenai tingkah laku atau kehidupan praktik yang berupa perbuatan yang baik. Filsafat ialah suatu kebijaksanaan dan sifatnya pada hakekatnya berupa usaha mengetahui. Bagaimana caranya? Mengetahui dalam arti yang paling penuh serta paling tegas, yaitu mengetahui dengan kepastian dan dapat menyatakan mengapa barang sesuatu itu seperti keadaannya dan tidak dapat lain daripada itu. Artinya, mengetahui berdasarkan sebab-sebabnya.”

Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang dengan cahaya kodrati akal budi mempelajari sebab-sebab pertama atau asas-asas tertinggi dari segala sesuatu. Dengan perkataan lain, filsafat merupakan ilmu pengetahuan tentang hal-hal pada sebab-sebabnya yang pertama, sejauh sebab-sebab ini termasuk dalam ketertiban alam.
Lawankanlah sekali lagi dengan catatan-catatan yang dibuat oleh John Dewey.
“ ukuran pertama tentang nilai suatu filsafat yang dikemukakan kepada kita: apakah filsafat itu berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan yang jika dihubungkan kembali dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari serta peristiwa-peristiwanya, menjadikan pengalaman-pengalaman serta peristiwa-peristiwa itu bersifat lebih bermakna serta lebih jelas, dan menyebabkan kita lebih berhasil dalam menanganinya?”

Sebagaimana dikatakan, bagi Dewey peranan filsafat tidak berbeda dengan perenungan kefilsafatan itu sendiri. Sedangkan bagi Hocking, Maritain, dan sebagian tokoh yang lain, ada dua pertanyaan yang perlu dipisahkan: (1) apakah filsafat itu? (2) apakah peranan serta nilainya?
Orang-orang yang sangat berbeda pandangannya tentang hakekat filsafat, dapat dan memang sering sependapat mengenai peranan serta nilainya.

Filsafat Sebagai Usaha Penilaian
Tidak banyak keuntungan yang diperoleh dari membuat daftar dan memperhatikan pelbagai macam definisi tentang filsafat. Kecuali, bahwa suatu definisi berikutnya mungkin akan memberikan kejelasan sebagai sudut pandangan yang lain. C.J Ducasse di dalam bukunya Filsafat Sebagai Ilmu Pengetahuan memilih tujuh hipotesa yang terdapat akhir-akhir ini mengenai hakekat dan metode filsafat. Hipotesa-hipitesa ini dibicarakannya secara hati-hati dan ia menolaknya kemudian, seraya menambahkan hipotesa yang kedelapan yaitu hipotesanya sendiri.

Ducasse berpendiriran, filsafat ialah suatu usaha mencari pengetahuan dan pengetahuan yang dicarinya ialah mengenai fakta-fakta yang dinamakan penilaian. Penilaian terjadi jika kita menggunakan kata-kata sifat seperti baik dan buruk, susila dan tidak susila, sehat dan khilaf, dapat dipercaya dan mengkhayal, sah  dan salah, dan sebagainya.

Tampaknya bagi Ducasse, pertanyaan-pertanyaan yang mendasar ialah penyifatan apakah yang kita berikan kepada sesuatu pernyataan bila kita menilainya sebagai pernyataan yang sehat? Penyifatan apakah yang kita berikan kepada barang sesuatu bila kita mengatakan bahwa barang sesuatu itu ada? Dan sebagainya. Dengan perkataan lain, Ducasse memandang filsafat sebagai suatu usaha mencari makna yang kita berikan bila kita membuat penilaian-penilaian tersebut.



Beberapa Pandangan Tentang Filsafat
Filsafat mempunyai makna yang banyak jumlahnya bagi pelbagai orang dan pada pelbagai masa di dalam sejarah manusia. Telah banyak definisi yang dicoba untuk dibuat dan banyak pula yang telah membatasi corak-corak pertanyaan yang diajukan oleh seorang filsuf. Selama sejarah peradaban barat, filsafat dipandang meliputi setiap hal, mulai dari sikap pribadi orang terhadap dunia di sekitarnya sampai dengan seluruh jumlah pengetahuan manusia. Aristoteles menulis tentang metafisika, etika, politik, biologi, fisika, bahasa, sebagainya. Dewasa ini ada yang hendak membatasi lingkup filsafat agar hanya berkisar pada pertanyaan-pertanyaan tentang logika sintaksiss. Sebaliknya, oleh Hocking, filsafat diberi Definisi:
“filsafat, menurut pemahaman saya, pertama-tama merupakan suatu penelitian tentang kepercayaan, yakni kepercayaan sebagai paham yang kita hayati yang berbeda dari paham yang kita pertimbangkan. Upaya mengadakan kritik berulang-ulang terhadap pelbagai kepercayaan kita yang utama ini mendorong kita ke arah suatu kepercayaan yang bersifat menyeluruh mengenai dunia kita hidup, sehingga filsafat menjadi penafsiaran yang bersifat umum mengenai pengalaman. Melukiskan pengalaman merupakan usaha kita, dan yang bertujuan untuk melukiskan secara benar, satu penyelidikan yang kritis, yang logis dan tepat mengenai kategori-kategori, tetapi melukiskan itu saja tidak cukup, kecuali jika nelukiskan itu juga berarti menjelaskan. Karena pada akhirnya keharusan untuk memahami itulah yang mendorong kita ke arah filsafat, dan apapun penafsiran manusia terhadap dunia, bagi mereka hal itu merupakan filsafat, baik kita mengakuinya secara demikian maupun tidak.”

Hal ini memberikan kepada kita gambaran mengenai filsafat sebagai suatu percobaan. Katakanlah, untuk keluar dan berada di atas dunia yang kita diami, serta memandang dunia itu dari sudut pandangan yang lebih tinggi. Pandangan yang demikian erat hubungannya dengan pandangan Spinoza yang berpendirian bahwa seorang filsuf harus melihat segala hal yakni dari segi keabadian.

Filsafat dan Peradaban
Sementara orang ada yang membantah dan mengatakan, mereka yang menganut filsafat, yang mengeluarkan mereka dari dunia ini, merupakan orang-orang yang melarikan diri. Banyak yang beranggapan bahwa filsafat yang sebenarnya secara intrinsik menyatu dari percobaan manusia untuk menghadapi pertentangan-pertentangan, kekalahan-kekalahan serta kemenangan-kemenangan dalam hidup. Sebagaimana dikatakan John Dewey (1859-952) filsafat dari satu masa harus dipandang sebagai suatu ungkapan perjuangan manusia di dalam
Usaha yang sudah lama dan selalu baru, untuk menyesuaikan sebagian terbesar tradisi yang membentuk akal pikiran manusia yang sesungguhnya (pada suatu waktu) dengan kecenderungan-kecenderungan ilmiah, serta hasrat-hasrat politik yang baru dan yang tidak cocok dengan otoritas-otoritas yang telah diterima.

Filsafat merupakan perjuangan yang berlangsung terus menerus untuk menyesuaikan yang lama dengan yang baru di dalam suatu kebudayaan. Jadi bagi Dewey, filsafat ialah suatu percobaan untuk mengadakan penyesuaian terhadap fakta perubahan kebudayaan. Tanpa percobaan itu, kehidupan manusia berada dalam bahaya. Filsafat adalah hasil yang berasal dari hasrat atau lebih tepat disebut tuntutan, yang menginginkan bahwa hidup itu mengandung makna. Karena tanpa tuntutan tersebut, kita akan binasa.

Demikianlah menurut hemat Dewey. Tetapi kita harus ingat, bagi Dewey, filsafat mempunyai dua segi: filsafat melihat ke masa yang lampau tetapi juga ke masa yang akan datang. Seorang filsuf juga mencoba untuk menetapkan pola-pola yang harus diikuti di dalam pikiran serta tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Ditinjau dari sudut pandang ini, filsafat merupakan suatu perabot yang harus dipergunakan untuk mengubah eksistensi, dan bukan hanya untuk memahaminya.

Filsafat Sebagai Usaha Untuk Mengetahui
Erat hubungannya dengan konsepsi Aristoteles mengenai filsafat ialah, konsepsi yang dianut oleh Jacques Maritain. Filsuf Katholik ini menitikberatkan pada segi usaha menegetahui dari Filsafat. Jacques Maritain antara lain mengatakan:
“filsafat bukanlah suatu kebijaksanaan mengenai tingkah laku atau kehidupan praktik yang berupa perbuatan yang baik. Filsafat ialah suatu kebijaksanaan dan sifatnya pada hakekatnya berupa usaha mengetahui. Bagaimana caranya? Mengetahui dalam arti yang paling penuh serta paling tegas, yaitu mengetahui dengan kepastian dan dapat menyatakan mengapa barang sesuatu itu seperti keadaannya dan tidak dapat lain daripada itu. Artinya, mengetahui berdasarkan sebab-sebabnya.”

Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang dengan cahaya kodrati akal budi mempelajari sebab-sebab pertama atau asas-asas tertinggi dari segala sesuatu. Dengan perkataan lain, filsafat merupakan ilmu pengetahuan tentang hal-hal pada sebab-sebabnya yang pertama, sejauh sebab-sebab ini termasuk dalam ketertiban alam.
Lawankanlah sekali lagi dengan catatan-catatan yang dibuat oleh John Dewey.
“ ukuran pertama tentang nilai suatu filsafat yang dikemukakan kepada kita: apakah filsafat itu berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan yang jika dihubungkan kembali dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari serta peristiwa-peristiwanya, menjadikan pengalaman-pengalaman serta peristiwa-peristiwa itu bersifat lebih bermakna serta lebih jelas, dan menyebabkan kita lebih berhasil dalam menanganinya?”

Sebagaimana dikatakan, bagi Dewey peranan filsafat tidak berbeda dengan perenungan kefilsafatan itu sendiri. Sedangkan bagi Hocking, Maritain, dan sebagian tokoh yang lain, ada dua pertanyaan yang perlu dipisahkan: (1) apakah filsafat itu? (2) apakah peranan serta nilainya?
Orang-orang yang sangat berbeda pandangannya tentang hakekat filsafat, dapat dan memang sering sependapat mengenai peranan serta nilainya.

Filsafat Sebagai Usaha Penilaian
Tidak banyak keuntungan yang diperoleh dari membuat daftar dan memperhatikan pelbagai macam definisi tentang filsafat. Kecuali, bahwa suatu definisi berikutnya mungkin akan memberikan kejelasan sebagai sudut pandangan yang lain. C.J Ducasse di dalam bukunya Filsafat Sebagai Ilmu Pengetahuan memilih tujuh hipotesa yang terdapat akhir-akhir ini mengenai hakekat dan metode filsafat. Hipotesa-hipitesa ini dibicarakannya secara hati-hati dan ia menolaknya kemudian, seraya menambahkan hipotesa yang kedelapan yaitu hipotesanya sendiri.

Ducasse berpendiriran, filsafat ialah suatu usaha mencari pengetahuan dan pengetahuan yang dicarinya ialah mengenai fakta-fakta yang dinamakan penilaian. Penilaian terjadi jika kita menggunakan kata-kata sifat seperti baik dan buruk, susila dan tidak susila, sehat dan khilaf, dapat dipercaya dan mengkhayal, sah  dan salah, dan sebagainya.

Tampaknya bagi Ducasse, pertanyaan-pertanyaan yang mendasar ialah penyifatan apakah yang kita berikan kepada sesuatu pernyataan bila kita menilainya sebagai pernyataan yang sehat? Penyifatan apakah yang kita berikan kepada barang sesuatu bila kita mengatakan bahwa barang sesuatu itu ada? Dan sebagainya. Dengan perkataan lain, Ducasse memandang filsafat sebagai suatu usaha mencari makna yang kita berikan bila kita membuat penilaian-penilaian tersebut.



BAHASA DALAM URAIAN KEFILSAFATAN
Filsafat dan Bahasa
Sementara ini kita tentu merasa bahwa seorang filsuf sepertinya menggunakan bahasanya sendiri. Sebenanrnya dalam arti tertentu, suatu sistem filsafat dapat dipandang sebagai suatu bahasa dan perenungan kefilsafatan, atau bahkan sebagai penyusunan bahasa tersebut. Bagaimanapun juga alat terpokok dari semua filsafat ialah bahasa. Tanpa bahasa, Louis berpendapat bahwa ia tidak dapat mengatakan sesuatu tentang filsafat kepada seseorang, atau memberitahukan tentang hasil-hasil perenungan kefilsafatan kepada orang lain. Apakah pikiran dapat/tidak dapat diteruskan tanpa bahasa? Ini merupakan masalah yang sebaiknya kita serahkan saja kepada seorang ahli ilmu jiwa.

Fakta menunjukkan bahwa ungkapan pikiran dan hasil-hasil perenungan kefilsafatan tidak dapat dilakukan tanpa bantuan bahasa. Maka untuk bekerja selanjutnya dalam usaha memahami filsafat dan tugas seorang filsuf, kita akan mempelajari bahasa yang digunakan dalam uraian kefilsafatan. Ini akan memperkenalkan kita dengan banyak masalah yang terdapat di dalamnya dan juga mengenai filsafat. Di samping itu, kita juga akan menjumpai istilah-istilah pokok yang terdapat  di dalam filsafat, corak-corak pernyataan yang diungkapkan, dan masalah-masalah yang terkandung di dalamnya untuk sampai kepada makna yang dikandung oleh istilah-istilah serta pernyataan-pernyataan tersebut.

Pembedaan Antara Berbicara Tentang Filsafat dan Dalam Filsafat
Pertama-tama, perlu diingat bahwa kita berbicara tentang filsafat. Tetapi berbicara tentang filsafat merupakan bagian berbicara di dalam filsafat. Dengan perkataan lain, berbicara tentang filsafat merupakan suatu cabang filsafat. Banyak orang memandangnya sebagai logika. Pembedaan diantara berbicara tentang bahasa dan berbicara di dalam bahasa adalah penting, dan karenanya memerlukan contoh. Dimisalkan kita mempunyai pernyataan:
“ ‘kucing’ menunjukkan seekor binatang yang berkaki empat.”
Pernyataan ini jelas mengenai perkataan ‘kucing’ dan bukan kucing yang sesungguhnya. Pernyataan ini menerangkan tanda kutip tunggal yang mengurung kata tersebut. Maka pernyataan itu mengatakan apa yang ditunjuk oleh kata kucing. Jika yang dimaksud dengan kucing (tanpa tanda kutip), binatang yang sesungguhnya maka kalimat:
“kucing menunjukkan seeokor binatang yang berkaki empat.”

Merupakan kalimat yang tidak bermakna. Kucing tidaklah menunjukkan seekor binatang yang berkaki empat, tetapi kucing adalah seekor binatang yang berkaki empat. Di lain pihak jika dikatakan:
“ ‘kucing’ makan daging.”
Kalimat ini pun tidak bermakna, karena suatu perkataan sama sekali tidak makan. Yang seharusnya ditulis ialah:
“kucing makan daging.”
Perhatikan bahwa apa yang telah dikatakan tadi dinyatakan di dalam bahasa, tetapi hal itu tentang bahasa. Mungkin juga bahwa suatu kalimat tertentu merupakan kalimat yang mengenai dirinya sendiri. Misalnya, “kalimat ini mempunyai lima perkataan.” Kita pun dapat menjumpai kalimat tentang kalimat. Pernyataan “yang nyata ialah yang rasional.” Merupakan pernyataan yang mengandung makna dan benar. Pernyataan tentang apakah kalimat ini mengandung makna merupakan pernyataan tentang kalimat yang terdapat dalam perenungan kefilsafatan. Jelaslah bahwa jawaban terhadap pernyataan itu sendiri haruslah di dalam sistem filsafat. Inilah ciri yang menonjol dari filsafat.

Hakikat Bahasa
Marilah pertama-tama kita perhatikan hakikat bahasa. Bahasa tersusun dari perangkat-perangkat tanda yang digabungkan dengan cara-cara tertentu. Ada tanda-tanda satu demi satu, seperti yang ditunjukkan oleh huruf-huruf abjad. Bila huruf-huruf ini digabungkan dengan cara-cara tertentu, maka sejumlah darinya menimbulkan apa yang dinamakan “kata-kata” atau “istilah-istilah dasar” bhasa. Misalnya, kita menjumpai huruf a, t, d, c,. Jika a, t, c, kita gabungkan dengan urutan-urutan yang tepat, maka kita akan memperoleh “cat” (dalam bahasa inggris), yang menunjukkan seeokor binatang.

Kamus bahasa inggris merupakan daftar istilah-istilah atau kata-kata bahasa inggris. Tidak semua perkataan tersebut mutlak diperlukan, karena banyak diantaranya dapat didefinisikan dengan memakai perkatan-perkataan yang lain. Jika kita sekedar memperhatikan perkataan-perkataan yang lain, maka kita akan memperoleh istiah-istilah dasar dalam bahasa. Hubungan antara istilah-istilah ini dengan bahasa inggris, sama dengan hubungan antara titi dan jarak dengan garis lurus. Titik dan jarak bersifat dasar, dan garis lurus dapat didefinisikan dengan memakai kedua istilah tadi, yakni sebagai jarak terdekat diantara dua buah titik.

Perkataan-perkataan dalam bahasa kefilsafatan merupakan perkataan-perkataan yang telah memperoleh mkna khusus. Banyak diantaranya akan kita jumpai pada Dictionary of Philosophy (karangan D.D Runes). Dalam bahasa kefilsafatan khususnya, yang penting ialah, hendaknya kita jangan merasa sudah puas dalam hal makna yang dikandung oleh suatu istilah. Janganlah kita beranggapan telah mengetahui sepenuhnya makna yang dikandung oleh suatu istilah. Bahkan sebaliknya, kita justru harus selalu siap beranggapan bahwa kita tidak mengetahui maknanya.

Simbol dan Perkataan
Kata-kata atau istilah-istilah merupakan simbol-simbol. Ini berarti, perkataan-perkataan atau istillah-istilah merupakan tanda-tanda yang sudah terbiasa terpakai untuk menunjuk sesuatu yang terdapat di balik perkataan-perkataan atau istilah-istilah itu sendiri. Perkataan-perkataan atau istilah-istilah mewakilibarang-barang atau mungkin mewakili gagasan-gagasan, atau setidak-tidaknya harus mewakili sesuatu. Maka setiap perkataan mempunyai tiga macam segi:
1.      Tanda itu sendiri.
2.      Sesuatu yang ditunjuknya.
3.      Subjek yang memakai perkataan itu.
Masalah tanda apakah yang digunakan, seringkali tidak penting dalam pembicaraan kefilsafatan, meskipun ada orang-orang yang percaya bahwa perkataan yang berupa tanda dengan suatu cara tertentu menjadi penting sejauh menyangkut maknanya.
Tanda tersebut sesungguhnya tidak mempunyai mkna dalam seperti apa yang dikatakan oleh Hawa di dalam cerita klasik ketika ia dan Adam memberi nama kepada binatang-binatang. Seekor binatang berkaki empat yang kelihatannya aneh melenggang di depannya. Setelaha melihatnya sejenak, Hawa berkata, “sebaiknya kita memberinya nama lembu.” “tetapi mengapa harus lembu?”, tanya Adam. “Oh”, kata Hawa, “karena kelihatannya seperti lembu.”

Makna Perkataan
 Barang sesuatu yang ditunjuk oleh suatau tanda atau perkataan dinamakan yang diacunya atau makna objektifnya. Sering sangat sukar menentukan apa yang diacu oleh suatu perkataan. Cobalah, misalnya, menentukan apa yang ditunjuk oleh perkataan Tuhan atau demokrasi.
Aspek ketiga suatau perkataan ialah hubungan perkataan dengan pikiran seseorang yang bagi orang tadi perkataan tersebut merupakan perkataan. Misalnya, yang diacu dengan perkataan demokrasi mungkin tidak dapat didefinisikan, tetapi perkataan tadi bagai seseorang mungkin mengacu kepada Amerika, sedangkan bagai orang lain mengacu kepada penghisapan kapitalis, dan sebagainya. Dengan kata lain, suatu perkataan dapat menimbulkan pelbagai gagasan atau emosi dalam jiwa seseorang yang mendengarnya, yang dapat menyebabkannya melakukan tindakan dengan cara yang khusus. Sebaiknya kita menamakannya segi pragmatik bagi perkataan, sedangkan makna perkataan kita namakan segi semantiknya.

Hendaknya diingat bahwa tanda yang sama dapat menunjukkan perkataan-perkataan yang secara semantik dan/atau pragmatik dalam keadaan yang berbeda. Perhatikan misalnya perkataan “kapitalis” dapat merupakan istilah pujian, atau, dalam hubungan yang lain dapat dengan mudah menimbulkan sikap yang menghina. Maka dapatlah dikatakan perkataan-perkataan dapat mengandung makna baik secara semantik maupun secara pragmatik. Yang demikian ini perlu disadari.

Kata-kata kefilsafatan berusaha mengandung makna secara semantik, meskipun sebagian filsuf memandang perkataan-perkataan tersebut hanya bersifat mengungkapkan perasaan, dan karenanya secara pragmatik mengandung makna namun secara semantik tidak bermakna.

Tentang Blog Saya

ketika lisan tak lagi tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, maka tulisan menjadi alternatif terbaik untuk mencurahkan semuanya

Mengenai Saya

Foto saya
Ketika ku dihadapkan pada masalah dan hampir membuatku menyerah, yang ku lakukan adalah berpasrah dan mengucap 'sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan'.