Beberapa Pandangan Tentang Filsafat
Filsafat
mempunyai makna yang banyak jumlahnya bagi pelbagai orang dan pada pelbagai
masa di dalam sejarah manusia. Telah banyak definisi yang dicoba untuk dibuat
dan banyak pula yang telah membatasi corak-corak pertanyaan yang diajukan oleh
seorang filsuf. Selama sejarah peradaban barat, filsafat dipandang meliputi
setiap hal, mulai dari sikap pribadi orang terhadap dunia di sekitarnya sampai
dengan seluruh jumlah pengetahuan manusia. Aristoteles menulis tentang
metafisika, etika, politik, biologi, fisika, bahasa, sebagainya. Dewasa ini ada
yang hendak membatasi lingkup filsafat agar hanya berkisar pada
pertanyaan-pertanyaan tentang logika sintaksiss. Sebaliknya, oleh Hocking,
filsafat diberi Definisi:
“filsafat,
menurut pemahaman saya, pertama-tama merupakan suatu penelitian tentang
kepercayaan, yakni kepercayaan sebagai paham yang kita hayati yang berbeda dari
paham yang kita pertimbangkan. Upaya mengadakan kritik berulang-ulang terhadap
pelbagai kepercayaan kita yang utama ini mendorong kita ke arah suatu
kepercayaan yang bersifat menyeluruh mengenai dunia kita hidup, sehingga
filsafat menjadi penafsiaran yang bersifat umum mengenai pengalaman. Melukiskan
pengalaman merupakan usaha kita, dan yang bertujuan untuk melukiskan secara
benar, satu penyelidikan yang kritis, yang logis dan tepat mengenai
kategori-kategori, tetapi melukiskan itu saja tidak cukup, kecuali jika
nelukiskan itu juga berarti menjelaskan. Karena pada akhirnya keharusan untuk
memahami itulah yang mendorong kita ke arah filsafat, dan apapun penafsiran
manusia terhadap dunia, bagi mereka hal itu merupakan filsafat, baik kita
mengakuinya secara demikian maupun tidak.”
Hal
ini memberikan kepada kita gambaran mengenai filsafat sebagai suatu percobaan.
Katakanlah, untuk keluar dan berada di atas dunia yang kita diami, serta
memandang dunia itu dari sudut pandangan yang lebih tinggi. Pandangan yang
demikian erat hubungannya dengan pandangan Spinoza yang berpendirian bahwa
seorang filsuf harus melihat segala hal yakni dari segi keabadian.
Filsafat dan Peradaban
Sementara
orang ada yang membantah dan mengatakan, mereka yang menganut filsafat, yang
mengeluarkan mereka dari dunia ini, merupakan orang-orang yang melarikan diri.
Banyak yang beranggapan bahwa filsafat yang sebenarnya secara intrinsik menyatu
dari percobaan manusia untuk menghadapi pertentangan-pertentangan,
kekalahan-kekalahan serta kemenangan-kemenangan dalam hidup. Sebagaimana
dikatakan John Dewey (1859-952) filsafat dari satu masa harus dipandang sebagai
suatu ungkapan perjuangan manusia di dalam
Usaha
yang sudah lama dan selalu baru, untuk menyesuaikan sebagian terbesar tradisi
yang membentuk akal pikiran manusia yang sesungguhnya (pada suatu waktu) dengan
kecenderungan-kecenderungan ilmiah, serta hasrat-hasrat politik yang baru dan
yang tidak cocok dengan otoritas-otoritas yang telah diterima.
Filsafat
merupakan perjuangan yang berlangsung terus menerus untuk menyesuaikan yang
lama dengan yang baru di dalam suatu kebudayaan. Jadi bagi Dewey, filsafat
ialah suatu percobaan untuk mengadakan penyesuaian terhadap fakta perubahan
kebudayaan. Tanpa percobaan itu, kehidupan manusia berada dalam bahaya.
Filsafat adalah hasil yang berasal dari hasrat atau lebih tepat disebut
tuntutan, yang menginginkan bahwa hidup itu mengandung makna. Karena tanpa
tuntutan tersebut, kita akan binasa.
Demikianlah
menurut hemat Dewey. Tetapi kita harus ingat, bagi Dewey, filsafat mempunyai
dua segi: filsafat melihat ke masa yang lampau tetapi juga ke masa yang akan
datang. Seorang filsuf juga mencoba untuk menetapkan pola-pola yang harus
diikuti di dalam pikiran serta tindakan-tindakan di masa yang akan datang.
Ditinjau dari sudut pandang ini, filsafat merupakan suatu perabot yang harus
dipergunakan untuk mengubah eksistensi, dan bukan hanya untuk memahaminya.
Filsafat Sebagai Usaha Untuk
Mengetahui
Erat
hubungannya dengan konsepsi Aristoteles mengenai filsafat ialah, konsepsi yang
dianut oleh Jacques Maritain. Filsuf Katholik ini menitikberatkan pada segi
usaha menegetahui dari Filsafat. Jacques Maritain antara lain mengatakan:
“filsafat
bukanlah suatu kebijaksanaan mengenai tingkah laku atau kehidupan praktik yang
berupa perbuatan yang baik. Filsafat ialah suatu kebijaksanaan dan sifatnya
pada hakekatnya berupa usaha mengetahui. Bagaimana caranya? Mengetahui dalam
arti yang paling penuh serta paling tegas, yaitu mengetahui dengan kepastian
dan dapat menyatakan mengapa barang sesuatu itu seperti keadaannya dan tidak
dapat lain daripada itu. Artinya, mengetahui berdasarkan sebab-sebabnya.”
Filsafat
merupakan ilmu pengetahuan yang dengan cahaya kodrati akal budi mempelajari
sebab-sebab pertama atau asas-asas tertinggi dari segala sesuatu. Dengan
perkataan lain, filsafat merupakan ilmu pengetahuan tentang hal-hal pada
sebab-sebabnya yang pertama, sejauh sebab-sebab ini termasuk dalam ketertiban
alam.
Lawankanlah
sekali lagi dengan catatan-catatan yang dibuat oleh John Dewey.
“
ukuran pertama tentang nilai suatu filsafat yang dikemukakan kepada kita:
apakah filsafat itu berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan yang jika dihubungkan
kembali dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari serta
peristiwa-peristiwanya, menjadikan pengalaman-pengalaman serta
peristiwa-peristiwa itu bersifat lebih bermakna serta lebih jelas, dan
menyebabkan kita lebih berhasil dalam menanganinya?”
Sebagaimana
dikatakan, bagi Dewey peranan filsafat tidak berbeda dengan perenungan
kefilsafatan itu sendiri. Sedangkan bagi Hocking, Maritain, dan sebagian tokoh
yang lain, ada dua pertanyaan yang perlu dipisahkan: (1) apakah filsafat itu?
(2) apakah peranan serta nilainya?
Orang-orang
yang sangat berbeda pandangannya tentang hakekat filsafat, dapat dan memang
sering sependapat mengenai peranan serta nilainya.
Filsafat Sebagai Usaha Penilaian
Tidak
banyak keuntungan yang diperoleh dari membuat daftar dan memperhatikan pelbagai
macam definisi tentang filsafat. Kecuali, bahwa suatu definisi berikutnya
mungkin akan memberikan kejelasan sebagai sudut pandangan yang lain. C.J
Ducasse di dalam bukunya Filsafat Sebagai Ilmu Pengetahuan memilih tujuh
hipotesa yang terdapat akhir-akhir ini mengenai hakekat dan metode filsafat.
Hipotesa-hipitesa ini dibicarakannya secara hati-hati dan ia menolaknya
kemudian, seraya menambahkan hipotesa yang kedelapan yaitu hipotesanya sendiri.
Ducasse
berpendiriran, filsafat ialah suatu usaha mencari pengetahuan dan pengetahuan
yang dicarinya ialah mengenai fakta-fakta yang dinamakan penilaian. Penilaian
terjadi jika kita menggunakan kata-kata sifat seperti baik dan buruk, susila
dan tidak susila, sehat dan khilaf, dapat dipercaya dan mengkhayal, sah dan salah, dan sebagainya.
Tampaknya
bagi Ducasse, pertanyaan-pertanyaan yang mendasar ialah penyifatan apakah yang
kita berikan kepada sesuatu pernyataan bila kita menilainya sebagai pernyataan
yang sehat? Penyifatan apakah yang kita berikan kepada barang sesuatu bila kita
mengatakan bahwa barang sesuatu itu ada? Dan sebagainya. Dengan perkataan lain,
Ducasse memandang filsafat sebagai suatu usaha mencari makna yang kita berikan
bila kita membuat penilaian-penilaian tersebut.

0 komentar:
Posting Komentar