Keteraturan bahasa
Mari
kita berbahasa sambil bermain angka-kata untuk mengetahui bahwa bahasa yang kita pelajari itu memiliki dan
sekaligus mengajarkan keteraturan dan keindahan bahasa yang bernilai filosofis
yang bisa kita petik.
Lihat
dengan cermat! Bukankah penjumlahan angka-angka di bawah ini menunjukkn sebuah
keteraturan?
|
9
+ 1 = 10
|
Sembilan
|
Satu
|
Sepuluh
|
|
8
+ 2 = 10
|
Delapan
|
Dua
|
Sepuluh
|
|
7
+ 3 = 10
|
Tujuh
|
Tiga
|
sepuluh
|
|
6
+ 4 = 10
|
Enam
|
Empat
|
Sepuluh
|
|
5
+ 5 = 10
|
Lima
|
Lima
|
Sepuluh
|
Perhatikan
huruf yang ditebalkan. Jika dicermati, ternyata kedua huruf awal ‘nama bilangan’
yang dijumlahkan itu sama dan menghasilkan bilangan yang sama pula.
Inilah pesan
sekaligus pelajaran pertama, keteraturan bahasa yang diajarkan angka-kata
kepada kita.
Sejenak
kita merenung, ternyata angka-angka yang kita gunakan dan kita perlukan dalam
hidup dan selama hidup ini, sejatinya hanya berjumlah sepuluh angka saja. Yaitu
: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,. Tetapi dengan
sepuluh angka itu, sudah cukup untuk mengatur segala kebutuhan hidup
kita yang bertalian dengan angka. Perlu bukti?
Lihatlah
nomor HP yang ada di phonebook Anda. Dari sekian banyak nomor, tidak ada
satupun nomor HP yang sama. Luar biasa bukan?
Sesungguhnya
ada pesan moral-spiritual dari angka dan kata yang layak kita renungi bersama. Anda,
misalnya mengirimkan SMS ke nomor HP teman Anda dengan nomor 022 815 74 231. Tetapi
Anda salah pijit. Yang seharusnya angka ujungnya 231, menjadi 321. Akan sampaikah
SMS itu kepada teman Anda? tentu tidak akan sampai bukan?!
Demikian
juga kalau Anda membeli suatu barang misalnya motor seharga 14,5 juta, tetapi
dikutansi tertulis 15,4 juta. Lalu Anda diminta menandatangani kuintansi itu. Apa
reaksi Anda? Apa yang terjadi bila manpulasi angka dan kata dianggap biasa?
Perhatikan
pula kata-kata berikut ini : BUNGA – BUANG, BERAS-BESAR. Apakah perbedaan
posisi huruf itu akan Anda anggap sama saja?
Sejatinya
angka dan kata itu mengajarkan ketertiban, keteraturan, kejujuran, kecermatan,
tanggung jawab serta disiplin kepada kita, para pemakai bahasa. Bayangkan saja
kalau angka dan kata itu digunakan seenaknya atau kita manipulasikan, maka apa
yang akan terjadi?
Bukankah
keterpurukan bangsa kita ini, karena terlalu banyak orang bermain angka dan
kata yang tidak apa adanya. Melainkan semau-mau
hawa nafsu sendiri (gemar memanipulasi anka-angka dan kata-kata) sekalipun
harus merugikan diri sendiri, orang lain dan negara.
Berbahasa
secara sederhanya bisa dikatakan hanya bermain angka dan kata. Siapa saja yang
terampil cerdas bermain angka dan kata dengan benar, mengikuti suara hati, maka
akan sukses dan mendapatkan penghargaan yang baik, dan pengakuan sosial yang
positif.
Tetapi sebaliknya,
siapa saja yang tidak pandai bermain angka dan kata dengan baik dan benar,
apalagi bila gemar memutarbalikkan fakta, memanipulasi angka dan kata secara
tidak bertanggung jawab, maka akan mendapat pengakuan yang tidak baik,
reputasinya akan hancur.
Artinya,
sikap santun berbahasa seseorang akan mendapatkan pengakuan/penghargaan positif
dari orang lain.
Daftar Pustaka
: Nurjamal, Daeng.,Warta Sumirat, & Riadi Darwis. 2011. Terampil Berbahasa. Bandung: Alfabeta.
