BAHASA DALAM URAIAN KEFILSAFATAN
Filsafat dan Bahasa
Sementara
ini kita tentu merasa bahwa seorang filsuf sepertinya menggunakan bahasanya
sendiri. Sebenanrnya dalam arti tertentu, suatu sistem filsafat dapat dipandang
sebagai suatu bahasa dan perenungan kefilsafatan, atau bahkan sebagai
penyusunan bahasa tersebut. Bagaimanapun juga alat terpokok dari semua filsafat
ialah bahasa. Tanpa bahasa, Louis berpendapat bahwa ia tidak dapat mengatakan
sesuatu tentang filsafat kepada seseorang, atau memberitahukan tentang
hasil-hasil perenungan kefilsafatan kepada orang lain. Apakah pikiran
dapat/tidak dapat diteruskan tanpa bahasa? Ini merupakan masalah yang sebaiknya
kita serahkan saja kepada seorang ahli ilmu jiwa.
Fakta
menunjukkan bahwa ungkapan pikiran dan hasil-hasil perenungan kefilsafatan
tidak dapat dilakukan tanpa bantuan bahasa. Maka untuk bekerja selanjutnya
dalam usaha memahami filsafat dan tugas seorang filsuf, kita akan mempelajari
bahasa yang digunakan dalam uraian kefilsafatan. Ini akan memperkenalkan kita
dengan banyak masalah yang terdapat di dalamnya dan juga mengenai filsafat. Di
samping itu, kita juga akan menjumpai istilah-istilah pokok yang terdapat di dalam filsafat, corak-corak pernyataan
yang diungkapkan, dan masalah-masalah yang terkandung di dalamnya untuk sampai
kepada makna yang dikandung oleh istilah-istilah serta pernyataan-pernyataan
tersebut.
Pembedaan Antara Berbicara Tentang
Filsafat dan Dalam Filsafat
Pertama-tama,
perlu diingat bahwa kita berbicara tentang filsafat. Tetapi berbicara tentang
filsafat merupakan bagian berbicara di dalam filsafat. Dengan perkataan lain,
berbicara tentang filsafat merupakan suatu cabang filsafat. Banyak orang
memandangnya sebagai logika. Pembedaan diantara berbicara tentang bahasa dan
berbicara di dalam bahasa adalah penting, dan karenanya memerlukan contoh.
Dimisalkan kita mempunyai pernyataan:
“
‘kucing’ menunjukkan seekor binatang yang berkaki empat.”
Pernyataan
ini jelas mengenai perkataan ‘kucing’ dan bukan kucing yang sesungguhnya.
Pernyataan ini menerangkan tanda kutip tunggal yang mengurung kata tersebut.
Maka pernyataan itu mengatakan apa yang ditunjuk oleh kata kucing. Jika yang
dimaksud dengan kucing (tanpa tanda kutip), binatang yang sesungguhnya maka
kalimat:
“kucing
menunjukkan seeokor binatang yang berkaki empat.”
Merupakan
kalimat yang tidak bermakna. Kucing tidaklah menunjukkan seekor binatang yang
berkaki empat, tetapi kucing adalah seekor binatang yang berkaki empat. Di lain
pihak jika dikatakan:
“
‘kucing’ makan daging.”
Kalimat
ini pun tidak bermakna, karena suatu perkataan sama sekali tidak makan. Yang
seharusnya ditulis ialah:
“kucing
makan daging.”
Perhatikan
bahwa apa yang telah dikatakan tadi dinyatakan di dalam bahasa, tetapi hal itu
tentang bahasa. Mungkin juga bahwa suatu kalimat tertentu merupakan kalimat
yang mengenai dirinya sendiri. Misalnya, “kalimat ini mempunyai lima
perkataan.” Kita pun dapat menjumpai kalimat tentang kalimat. Pernyataan “yang
nyata ialah yang rasional.” Merupakan pernyataan yang mengandung makna dan
benar. Pernyataan tentang apakah kalimat ini mengandung makna merupakan
pernyataan tentang kalimat yang terdapat dalam perenungan kefilsafatan.
Jelaslah bahwa jawaban terhadap pernyataan itu sendiri haruslah di dalam sistem
filsafat. Inilah ciri yang menonjol dari filsafat.
Hakikat Bahasa
Marilah
pertama-tama kita perhatikan hakikat bahasa. Bahasa tersusun dari
perangkat-perangkat tanda yang digabungkan dengan cara-cara tertentu. Ada
tanda-tanda satu demi satu, seperti yang ditunjukkan oleh huruf-huruf abjad.
Bila huruf-huruf ini digabungkan dengan cara-cara tertentu, maka sejumlah
darinya menimbulkan apa yang dinamakan “kata-kata” atau “istilah-istilah dasar”
bhasa. Misalnya, kita menjumpai huruf a, t, d, c,. Jika a, t, c, kita gabungkan
dengan urutan-urutan yang tepat, maka kita akan memperoleh “cat” (dalam bahasa
inggris), yang menunjukkan seeokor binatang.
Kamus
bahasa inggris merupakan daftar istilah-istilah atau kata-kata bahasa inggris.
Tidak semua perkataan tersebut mutlak diperlukan, karena banyak diantaranya
dapat didefinisikan dengan memakai perkatan-perkataan yang lain. Jika kita
sekedar memperhatikan perkataan-perkataan yang lain, maka kita akan memperoleh
istiah-istilah dasar dalam bahasa. Hubungan antara istilah-istilah ini dengan
bahasa inggris, sama dengan hubungan antara titi dan jarak dengan garis lurus.
Titik dan jarak bersifat dasar, dan garis lurus dapat didefinisikan dengan
memakai kedua istilah tadi, yakni sebagai jarak terdekat diantara dua buah
titik.
Perkataan-perkataan
dalam bahasa kefilsafatan merupakan perkataan-perkataan yang telah memperoleh
mkna khusus. Banyak diantaranya akan kita jumpai pada Dictionary of Philosophy
(karangan D.D Runes). Dalam bahasa kefilsafatan khususnya, yang penting ialah,
hendaknya kita jangan merasa sudah puas dalam hal makna yang dikandung oleh
suatu istilah. Janganlah kita beranggapan telah mengetahui sepenuhnya makna
yang dikandung oleh suatu istilah. Bahkan sebaliknya, kita justru harus selalu
siap beranggapan bahwa kita tidak mengetahui maknanya.
Simbol dan Perkataan
Kata-kata
atau istilah-istilah merupakan simbol-simbol. Ini berarti, perkataan-perkataan
atau istillah-istilah merupakan tanda-tanda yang sudah terbiasa terpakai untuk
menunjuk sesuatu yang terdapat di balik perkataan-perkataan atau istilah-istilah
itu sendiri. Perkataan-perkataan atau istilah-istilah mewakilibarang-barang
atau mungkin mewakili gagasan-gagasan, atau setidak-tidaknya harus mewakili
sesuatu. Maka setiap perkataan mempunyai tiga macam segi:
1. Tanda
itu sendiri.
2. Sesuatu
yang ditunjuknya.
3. Subjek
yang memakai perkataan itu.
Masalah
tanda apakah yang digunakan, seringkali tidak penting dalam pembicaraan
kefilsafatan, meskipun ada orang-orang yang percaya bahwa perkataan yang berupa
tanda dengan suatu cara tertentu menjadi penting sejauh menyangkut maknanya.
Tanda
tersebut sesungguhnya tidak mempunyai mkna dalam seperti apa yang dikatakan
oleh Hawa di dalam cerita klasik ketika ia dan Adam memberi nama kepada
binatang-binatang. Seekor binatang berkaki empat yang kelihatannya aneh melenggang
di depannya. Setelaha melihatnya sejenak, Hawa berkata, “sebaiknya kita
memberinya nama lembu.” “tetapi mengapa harus lembu?”, tanya Adam. “Oh”, kata
Hawa, “karena kelihatannya seperti lembu.”
Makna Perkataan
Barang sesuatu yang ditunjuk oleh suatau tanda
atau perkataan dinamakan yang diacunya atau makna objektifnya. Sering sangat
sukar menentukan apa yang diacu oleh suatu perkataan. Cobalah, misalnya,
menentukan apa yang ditunjuk oleh perkataan Tuhan atau demokrasi.
Aspek
ketiga suatau perkataan ialah hubungan perkataan dengan pikiran seseorang yang
bagi orang tadi perkataan tersebut merupakan perkataan. Misalnya, yang diacu
dengan perkataan demokrasi mungkin tidak dapat didefinisikan, tetapi perkataan
tadi bagai seseorang mungkin mengacu kepada Amerika, sedangkan bagai orang lain
mengacu kepada penghisapan kapitalis, dan sebagainya. Dengan kata lain, suatu
perkataan dapat menimbulkan pelbagai gagasan atau emosi dalam jiwa seseorang
yang mendengarnya, yang dapat menyebabkannya melakukan tindakan dengan cara
yang khusus. Sebaiknya kita menamakannya segi pragmatik bagi perkataan,
sedangkan makna perkataan kita namakan segi semantiknya.
Hendaknya
diingat bahwa tanda yang sama dapat menunjukkan perkataan-perkataan yang secara
semantik dan/atau pragmatik dalam keadaan yang berbeda. Perhatikan misalnya
perkataan “kapitalis” dapat merupakan istilah pujian, atau, dalam hubungan yang
lain dapat dengan mudah menimbulkan sikap yang menghina. Maka dapatlah
dikatakan perkataan-perkataan dapat mengandung makna baik secara semantik
maupun secara pragmatik. Yang demikian ini perlu disadari.
Kata-kata
kefilsafatan berusaha mengandung makna secara semantik, meskipun sebagian
filsuf memandang perkataan-perkataan tersebut hanya bersifat mengungkapkan
perasaan, dan karenanya secara pragmatik mengandung makna namun secara semantik
tidak bermakna.

0 komentar:
Posting Komentar