Trie Setyaningsih

Banyak jalan menuju kesempurnaan



PERENUNGAN FILSAFAT
Apakah Filsafat Itu?
Orang mengatakan bhwa filsafat ‘tidak membuat roti’. Ucapan ini sepenuhnya benar. Filsafat tidak memberi petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat bom atom. Sebenarnya jika di dalam filsafat kita mencari jawaban yang terakhir terhadap persoalan yang kita hadapi, yakni jawaban yang disepakati oleh semua filsuf sebagai hal yang benar, maka kita akan kecewa dan bersedih hati. Setelah lama mempelajarinya, kita dapat mulai menyusun suatu sistem filsafat yang di dalamnya kita dapat menempatkan persoalan-persoalan yang kita hadapi dan memberi jawaban-jawaban yang kiranya sah.

Kita juga menjadi terbiasa mengadakan penalaran-penalaran secara tetap, dan memurnikan pikiran-pikiran secara tetap pula, sehingga kita akan siap mendapati bahwa penyelesaian-penyelesaian kita sering tidak memadai dan bersifat sementara, serta tidak diterima oleh banyak orang.

Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan.
Meskipun filsafat ‘tidak membuat roti’, namun filsafat dapat menyiapkan tungkunya, menyisihkan  noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbunya secara layak, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat. Secara sederhana hal ini berarti bahwa tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusai sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.
Hal itu dapat digambarkan dengan contoh klasik sebagai berikut.
Lama berselang pada tahun 399 SM, Socrates dihukum mati atas tuduhan merusak jiwa kaum muda di Athena. Ia harus mati dengan minum racun pada suatu hari tertentu. Tetapi socrates mempunyai banyak teman kaya raya yang mengambil keputusan bahwa, karena menurut hemat mereka Socrates dihukum secara salah, maka mereka akan membantunya untuk melarikan diri. Mereka pun bersedia menyuap pengawal penjara dan membujuk Socrates agar melarikan diri.

Bagi manusia praktis, pastilah ia akan  berkeinginan untuk meninggalkan penjara secepat mungkin. Tetapi tidak demikian halnya dengan Socrates. Kepada kawan-kawannya ia berkata bahwa sebelum ia menerima tawaran mereka, perlu ditentuka terlebih dahulu apakah perbuatan melarikan diri itu layak baginya. Nah, inilah ucapan seorang filsuf. Ia duduk dengan teman-temannya untuk membicarakan masalah itu. Secara hati-hati diajukan alasan-alasan bagi pelarian dirinya. Secara hati-hati pula, Socrates meneliti alasan-alasan tersebut dan mengajukan alasana-alasan lain yang menyetujui ia melarikan diri.

Akhirnya, teman-temannya sepakat bahwa tidaklah tepat bagi Socrates untuk melarikan diri. Pada saat itulah pembicaraan kefilsafatan berakhir. Socrates bertindak. Tindakannya didasarkan atas pemikirannya, tetapi tindakan itu tidak merupakan bagian dari pemikiran tersebut. Socrates tetap tinggal di penjara, dan ia pun ......... minum racun!

Keinginan filsafat ialah pemikiran secara ketat.
Contoh di atas menunjukkan bahwa filsafat berbeda sekali dengan membuat roti. Filsafat merupakan suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis ata suatu sudut pandangan yang menjadi dasar suatu tindakan. Dan hendaknya diingat bahwa kegiatan yang kita namakan kegiatan kefilsatan itu sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran.

Pemikiran jenis ini berupa meragukan sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lainnya, menanyakan ‘mengapa’, mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang tersedia pada pandangan pertama. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keruntutan, dan keadaan memadainya pengetahuan, agar kita dapat memperoleh pemahaman-pemahaman. Apakah makna istilah ‘kejelasan’, ‘keruntutan’, ‘keadaan memadai’, dan ‘pemahaman’ tersebut?

Sejumlah makna khusus yang dikandung istilah ‘filsafat’
Sebelum mencoba menjelaskan makna-makna yang dikandung istilah-istilah tadi, marilah kita tinjau beberapa pengertian lain yang dikandung filsafat. Pada suatu hari ketia mengunjungi sorang dokter, Louis harus menunggu karena dokter tersebut sedang merawat pasien lain yang kehilangan penglihatan. Beberaapa saat kemudian Louis berkata kepada dokter tadi, “saya kira saya tidak akan dapat menjadi.” Dokter itu tersenyum dan menjawab, “sudahlah, Anda ini seorang filsuf, seharusnya Anda memandang segala sesuatau secara kefilsafatan.”

Ucapan ini mempunyai makna yang sama dengan apa yang dikandung oleh ucapan seseorang yang berkata , “Pandanglah nasib malang itu secara kefilsafatan.” Orang yang berbicara demikian memiliki aksud bahwa seharusnya kita tidak memprihatinkan sesuatu, melainkan terimalah sesuatu secara biasa. Dengan makna yang samaorang sering mengatakan “seribu tahun yang akan datang, siapakah yang akan memperhatikan: apakah kita mempelajari atau tidak mempelajari filsafat?”
Dari sini, ada tiga hal yang bisa ditunjukkannya:
1.      Sikap acuh tak acuh;
2.      Menekan perasaan;
3.      Ketiadaan sifat penting.
Seorang filsuf dianggap sebagai orang yang memandang segala sesuatu ‘dari sudut keabadian’, dan karenanya menemukan ketiadaan sifat pentingnya segala sesuatu; atau dianggap sebagai orang yang memandang manusia sebagai sesuatu yang tidak berarti, dan karenanya bersikap acuh tak acuh terhadap segala hal.
Maka ada gambaran bahwa seorang filsuf merupakan ‘mesin yang berpikir’ tanpa suatau perasaan apapun.  Apa yang dilupakan ialah, bahwa mereka memandang seorang filsuf dalam hubungan yang demikian ini- dan karenanya memandang filsafat sebagai sesuatu yang membawa orang kepada sikap yang demikian itu- sesungguhnya tidaklah berbicara tentang filsafat, melainkan tentang filsafat yang khusus. Ada filsafat yang cenderung memuja akal,. Ada sistem-sistem filsafat yang didasarkan pada pandangan yang mengutamakan kehendak. Dan dewasa ini, ada sistem-sistem filsafat yang menegaskan bahwa pengetahuan yang mendalam dalam arti yang sebenarnya diperoleh melalui perasaan. Dengan cara yang sama, banyak filsuf memberikan tekanan pada ketiadaan sifat pentingnya manusia, tatapi para filsuf yang lain menegaskan tentang keunggulan manusia.

Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis
Kegiatan kefilsafatan ialah merenung. Tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berpikir secara kebetulan secara untung-untungan. Perenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendir. Perenungan kefilsafatan dapat merupakan karya satu orang yang dikerjakan sendiri, ketika ia dengan pikirannya berusaha keras menemukan alasan dan penjelasan dengan cara semacam bertanya kepada diri sendiri. Atau, perenungan itu dapat pula dilakukan oleh dua atau lebih dari dalam suatu percakapan ketika mereka melakukan analisa, melakukan kritik dan mengubungkan pikiran mereka secara timbal balik.
Biarpun sebagian besar sitem-sitem filsafat yang besar, misalnya sistem filsafat Aristoteles yang hidup pada abad IV SM atau sistem Hegel (1770-1831), merupakan karya-karya perseorangan, namun sistem-sistem tersebut menunjukkan adanya saling pertukaran yang ajeg dengan pikiran serta kritik-kriktik orabg lain.  Sesungguhnya tidak ada filsafat yang disusun dari ketiadaan dan tanpa hal-hal yang mendahuluinya yang telah dipelajarinya, dan oelh rekan-rekan semasa hidupnya yang mengajukan kritik terhadapnya. Sejumlah karya kefilsafatan yang besar tertulis sebagai dialog, yakni dalam bentuk percakapan diantara dua orang atau lebih, yang memiliki penyelesaian-penyelesaian yang berupa alternatif, dan yang dengan pembicaraan secara rasioanl berusaha memperoleh kesimpulan yang memuaskan. Contoh-contoh karya semacam itu ialah dialog-dialog yang ditulis oleh Plato, sang tokoh abadi (427-347 SM), dan lama kemudian, sejumlah karya filsuf Britania yang termasyhur, Uskup Berkeley (1685-1753).

Perenungan kefilsafatan ialah sejenis percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Itulah sebabnya, mengapa seorng filsuf tampak selalu berhubungan dengan polemik, dan tampak lebih menaruh perhatian kepada merusak atau menentang dibandingkan usaha untuk membangun.dalam arti tertentu, perenungan kefilsafatan dapat dipandang  sebagai pertentangan di antara alternatif-alternatif yang masing-masing berpegangan pada unsur atau segi yang penting, dan kemudian mencoba untuk mengujinya pada pengalaman, kenyataan empirik, dan akal. Hal ini mudah ditunjukkan dalam masalah filsafat pengetahuan.

Ada yang berpendirian bahwa pengetahuan diperoleh hanya melalui pengalaman dan ada yang berpendirian bahwa pengetahuan didapat hanya melalui akal. Yang terdahulu disebut pengikut empieris , yang terakhir dinamakan pengikut rasioanalisme. Kedua pendirian ini dapat diuraikan secara panjang lebar smapai salah satu diantaranya terbukti salah atau sampai teracapai suatu sintesa. Soalnya ialah, uraian-uraian itu berusaha menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak runtut, dengan maksud agar tercapai penyelesaian-penyelasaian yang lebih memadai.

Banyak filsuf sudah puas dengan sekedar mengerjakan karya-karya rintisan bagi orang lain. Mereka sudah puas dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak runtut, dan menyerahkan pekerjaan untuk menciptakan sistem-sistem, seperti Hegel, kepada orang lain. Sebenarnya memang lebih mudah untuk bersikap destruktif secara kritis, ketimbang bersikap konstruktif secara koheren.


Ciri-ciri Pikiran Kefilsafatan
Suatu bagan konsepsional
Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentan hal-hal serta proses-proses satu demi satu. Karena itu, filsafat merupakan pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang umum. Diantara proses -proses yang dibicarakan ini ialah pemikiran itu snediri. Filsafat merupakan hasil menjadi- kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikrkannya.

Sebagai konsekuensinya, seorang filsuf tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitarnya dan dunia yang ada di dalamnya dirinya, melainkan juga membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri. Ia tidak hanya ingin mengetahu hakekat kenyataan dan ukuran-ukuran untuk melakukan verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan mengenai segala sesuatu, melainkan ia berusaha menemukan kaidah-kaidah berpkir itu sendiri. Kapankah suatu pemikiran itu membawa kita kepada kesimpulan yang sah, dan bagimana caranya, serta mengapa membawa kita kepada kesimpulan yang sah.

Saling hubungan antar jawaban-jawaban kefilsafatan. Kesukaran yang menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan pemikiran tentang proses pikiran, akan segera muncul setelah seseorang berusaha menjawab salah satu diantaranya; sebab usaha untuk menjawab pertanyaan yang satu bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Dalam usaha untuk mengatakan apakah yang dinamakan kebenaran, orang harus berusaha menemukan apakah yang dinamakan kebajikan, orang terpaksa berusaha mencari penyelesaian mengenai pertanyaan tentang kemerdekaan kehendak, yang mau tidak mau, membawa kita kepada pertanyaan tentang susunan dunia tempat kita hidup. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan merdeka dan karenanya bersifat bajik jika dunia merupakan suatu sistem yang serba tentu (deterministik), dan jika manusia tidak lebih daripada sesuatu yang tiada berarti yang ditentukan oleh hukum-hukum alam yang tetap dan berlaku tiada putus-putusnya.
Contoh terbaik mengenai bentuk analisa kefilsafatan yang berupa dialog, yang juga menggambarkan adanya antar hubungan yang hakiki diantara semua pertanyaaan, terdapat  di dalam karya Plato yang berjudul Republik. Dalam buku ini, Socrates dilukiskan sedang disertai oleh teman-temannya dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaa, “apakah yang dinamakan keadilan itu?” sebelum mengakhiri usaha tersebut dan siap mengajukan jawaban yang mereka perkirakan tepat, maka Socrates dan teman-temannya berturut-turut mengemukakan banyak pertanyaan mulai dari pertanyaan tentang hakekat pengetahuan sampai pada pertanyaan tentang pendidikan anak-anak yang dimasyarakatkan. Namun semuanya ini dilakukan dalam bentuk percakapan dan dengan jalan memikirkan secara mendalam masalah-masalah yang terkandung di dalamnya.

HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA
Setiap orang memiliki tingkat keterampilan berbahasa yang berbeda-beda. Ada orang yang memiliki keterampilan berbahasa tinggi, sedang, dan rendah. Orang yang keterampilan berbahasanya tinggi akan mudah mencapai tujuan komunikasi yang ia lakukan. Begitu juga sebaliknya, orang yang keterampilan berbahasanya sedang atau rendah, kualitas pencapaian tujuan komunikasi yang ia lakukan lebih rendah daripada orang yang berketerampilan berbahasa tinggi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari pembawaan sejak lahir. Namun, tidak berarti keterampilan berbahasa seseorang tidak bisa berkembang. Keterampilan berbahasa seseorang dapat berkembang dengan cara berlatih.

PENGERTIAN KETERAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang harus dikuasai setiap orang. Dalam suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.
Pengirim pesan aktif memilih pesan yang akan disampaikan, menformulasikannya dalam wujud lambang-lambang berupa bunyi/tulisan. Proses demikian disebut proses encoding.
Kemudian, lambang-lambang berupa bunyi/tulisan tersebut menjadi makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh. Proses tersebut disebut prose decoding.
Jadi, kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut harus sama-sama memiliki keterampilan, yaitu si pengirim harus memiliki keterampilan memilih lambang-lambang (bunyi/tulisan) guna menyampaikan pesan dan si penerima harus terampil memberi makna terhadap lambang (bunyi/tulisan) yang berisi pesan yang disampaikan.
Dalam berkomunikasi, si pengirim mungkin menyampaikan pesan berupa pikiran, perasaan, fakta, kehendak dengan menggunakan lambang-lambang berupa bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan. Dengan kata lain, dalam proses encoding, si pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi (bahasa lisan) tersebut disampaikan kepada penerima. Aktivitas tersebut biasa kita kenal dengan istilah berbicara.
Di pihak lain, si penerima melakukan aktivitas decoding berupa pengubahan bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi lisan tersebut kembali menjadi pesan. Aktivitas tersebut biasa kita sebut dengan istilah menyimak.
Ada pula pengirim menyampaikan pesan itu dengan menggunakan lambang-lambang berupa tulisan. Dalam proses encoding, si pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa tertulis, kemudaian dikirimkan kepada penerima. Aktivitas tersebut biasa kita kenal dengan istilah menulis.
Kemudian, si penerima dalam proses decoding berupaya memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis sehingga pesan dapat diterima secara utuh. Aktivitas tersebut kita kenal dengan istilah membaca.
Dalam kenyataan, aktivitas komunikasi dalam wujud berbicara, mendengarkan, menulis, dan membaca tidaklah sesederhana gambaran pada komunikasi yang bersifat satu arah. Komunikasi yang terjadi sering pula bersifat dua arah, seperti tergambar berikut ini.
Bahkan komunikasi sering pula terjadi dalam wujud multiarah.
Dalam komunikasi yang sesungguhnya, ketika melakukan prsose encoding si pengirm berada dalam konteks yang berupa ruang, waktu, peran, serta konteks budaya yang menjadi latar belakang keberhasilan suatu proses komunikasi sangat bergantung kepada proses encoding dan decoding yang sesuai dengan konteks komunikasi. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi sebagai pengirim pesan, dalam proses encoding ia terampil memilih bentuk-bentuk bahasa yang tepat, sesuai dengan konteks komunikasi. Kemudian, ia dapat dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi sebagai penerima pesan dalam proses decoding ia mampu mengubah bentuk-bentuk bahasa yang diterimanya dalam suatu konteks komunikasi menjadi pesan yang utuh, yang sama dengan yang dimaksudkan oleh si pengirim.
Dengan kata lain, seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbicara apabila yang bersangkutan terampil memilih bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, serta tekanan dan nada) secara tepat serta menformulasikannya secara tepat pula guna menymapaikan pikiran, perasaan, gagasan, fakta, perbuatan dalam suatu konteks komunikasi. Kemudian, seseorang dikatakan terampil menyimak apabila yang bersangkutan memiliki kemampuan menafsirkan makna dari bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, tekanan, dan nada) yang disampaikan pembicara dalam suatu konteks komunikasi. Selanjutnya, seseorang dikatakan memiliki keterampilan menulis bila yang bersangkutan dapat memilih bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa kata, kalimat, paragraf) serta menggunakan retorika (organisasi tulisan) yang tepat guna mengutarakan pikiran, perasaan, gagasan, dan fakta. Seseorang dikatakan terampil membaca bila yang bersangkutan dapat menafsirkan makna dan bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa kata, kalimat, paragraf, dan organisasi tulisan) yang dibacanya.



Ada tanya yang tiada jawabnya
Bagaimana bisa
Keangkuhan menguasai jiwa
Nyatanya kerapuhan menyertainya

Ada tanya yang tiada jawabnya
Bagaimana bisa
Hati merasa leluasa
Nyatanya tekanan dalam batin selalu ada

Ahhh ....
Hidupnya penuh kepura-puraan

Kini muncul sebuah pertanyaan
Adakah ia merasa nyaman?
Sungguh
Bukan itu yang ia rasakan

Ada yang sangat ia rindukan
Sebuah ketenangan
Sebuah kedamaian

Pada akhirnya ia merasa jenuh
Bersimpuh
Di hadapan-Nya ia bersimpuh
Melepaskan jiwanya dari rasa angkuh

Tentang Blog Saya

ketika lisan tak lagi tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, maka tulisan menjadi alternatif terbaik untuk mencurahkan semuanya

Mengenai Saya

Foto saya
Ketika ku dihadapkan pada masalah dan hampir membuatku menyerah, yang ku lakukan adalah berpasrah dan mengucap 'sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan'.