HAKIKAT
KETERAMPILAN BERBAHASA
Setiap orang memiliki tingkat
keterampilan berbahasa yang berbeda-beda. Ada orang yang memiliki keterampilan
berbahasa tinggi, sedang, dan rendah. Orang yang keterampilan berbahasanya
tinggi akan mudah mencapai tujuan komunikasi yang ia lakukan. Begitu juga
sebaliknya, orang yang keterampilan berbahasanya sedang atau rendah, kualitas
pencapaian tujuan komunikasi yang ia lakukan lebih rendah daripada orang yang
berketerampilan berbahasa tinggi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari
pembawaan sejak lahir. Namun, tidak berarti keterampilan berbahasa seseorang
tidak bisa berkembang. Keterampilan berbahasa seseorang dapat berkembang dengan
cara berlatih.
PENGERTIAN
KETERAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu
yang harus dikuasai setiap orang. Dalam suatu masyarakat, setiap orang saling
berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri
bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan
kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.
Pengirim pesan aktif
memilih pesan yang akan disampaikan, menformulasikannya dalam wujud
lambang-lambang berupa bunyi/tulisan. Proses demikian disebut proses encoding.
Kemudian,
lambang-lambang berupa bunyi/tulisan tersebut menjadi makna sehingga pesan
tersebut dapat diterima secara utuh. Proses tersebut disebut prose decoding.
Jadi, kedua belah pihak
yang terlibat dalam komunikasi tersebut harus sama-sama memiliki keterampilan,
yaitu si pengirim harus memiliki keterampilan memilih lambang-lambang
(bunyi/tulisan) guna menyampaikan pesan dan si penerima harus terampil memberi
makna terhadap lambang (bunyi/tulisan) yang berisi pesan yang disampaikan.
Dalam berkomunikasi, si
pengirim mungkin menyampaikan pesan berupa pikiran, perasaan, fakta, kehendak
dengan menggunakan lambang-lambang berupa bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan.
Dengan kata lain, dalam proses encoding,
si pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi
(bahasa lisan) tersebut disampaikan kepada penerima. Aktivitas tersebut biasa
kita kenal dengan istilah berbicara.
Di pihak lain, si
penerima melakukan aktivitas decoding
berupa pengubahan bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi lisan tersebut
kembali menjadi pesan. Aktivitas tersebut biasa kita sebut dengan istilah
menyimak.
Ada pula pengirim
menyampaikan pesan itu dengan menggunakan lambang-lambang berupa tulisan. Dalam
proses encoding, si pengirim mengubah
pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa tertulis, kemudaian dikirimkan kepada
penerima. Aktivitas tersebut biasa kita kenal dengan istilah menulis.
Kemudian, si penerima
dalam proses decoding berupaya
memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis sehingga pesan dapat diterima secara
utuh. Aktivitas tersebut kita kenal dengan istilah membaca.
Dalam kenyataan,
aktivitas komunikasi dalam wujud berbicara, mendengarkan, menulis, dan membaca
tidaklah sesederhana gambaran pada komunikasi yang bersifat satu arah.
Komunikasi yang terjadi sering pula bersifat dua arah, seperti tergambar
berikut ini.
Bahkan komunikasi sering pula terjadi
dalam wujud multiarah.
Dalam komunikasi yang sesungguhnya,
ketika melakukan prsose encoding si
pengirm berada dalam konteks yang berupa ruang, waktu, peran, serta konteks
budaya yang menjadi latar belakang keberhasilan suatu proses komunikasi sangat
bergantung kepada proses encoding dan
decoding yang sesuai dengan konteks
komunikasi. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi
sebagai pengirim pesan, dalam proses encoding
ia terampil memilih bentuk-bentuk bahasa yang tepat, sesuai dengan konteks
komunikasi. Kemudian, ia dapat dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam
posisi sebagai penerima pesan dalam proses decoding
ia mampu mengubah bentuk-bentuk bahasa yang diterimanya dalam suatu konteks
komunikasi menjadi pesan yang utuh, yang sama dengan yang dimaksudkan oleh si
pengirim.
Dengan kata lain, seseorang dikatakan memiliki
keterampilan berbicara apabila yang bersangkutan terampil memilih bunyi-bunyi
bahasa (berupa kata, kalimat, serta tekanan dan nada) secara tepat serta
menformulasikannya secara tepat pula guna menymapaikan pikiran, perasaan,
gagasan, fakta, perbuatan dalam suatu konteks komunikasi. Kemudian, seseorang
dikatakan terampil menyimak apabila yang bersangkutan memiliki kemampuan
menafsirkan makna dari bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, tekanan, dan
nada) yang disampaikan pembicara dalam suatu konteks komunikasi. Selanjutnya,
seseorang dikatakan memiliki keterampilan menulis bila yang bersangkutan dapat
memilih bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa kata, kalimat, paragraf) serta
menggunakan retorika (organisasi tulisan) yang tepat guna mengutarakan pikiran,
perasaan, gagasan, dan fakta. Seseorang dikatakan terampil membaca bila yang
bersangkutan dapat menafsirkan makna dan bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa
kata, kalimat, paragraf, dan organisasi tulisan) yang dibacanya.

0 komentar:
Posting Komentar