Trie Setyaningsih

Banyak jalan menuju kesempurnaan

HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA
Setiap orang memiliki tingkat keterampilan berbahasa yang berbeda-beda. Ada orang yang memiliki keterampilan berbahasa tinggi, sedang, dan rendah. Orang yang keterampilan berbahasanya tinggi akan mudah mencapai tujuan komunikasi yang ia lakukan. Begitu juga sebaliknya, orang yang keterampilan berbahasanya sedang atau rendah, kualitas pencapaian tujuan komunikasi yang ia lakukan lebih rendah daripada orang yang berketerampilan berbahasa tinggi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari pembawaan sejak lahir. Namun, tidak berarti keterampilan berbahasa seseorang tidak bisa berkembang. Keterampilan berbahasa seseorang dapat berkembang dengan cara berlatih.

PENGERTIAN KETERAMPILAN BERBAHASA
Keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang harus dikuasai setiap orang. Dalam suatu masyarakat, setiap orang saling berhubungan dengan orang lain dengan cara berkomunikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa keterampilan berbahasa adalah salah satu unsur penting yang menentukan kesuksesan mereka dalam berkomunikasi.
Pengirim pesan aktif memilih pesan yang akan disampaikan, menformulasikannya dalam wujud lambang-lambang berupa bunyi/tulisan. Proses demikian disebut proses encoding.
Kemudian, lambang-lambang berupa bunyi/tulisan tersebut menjadi makna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh. Proses tersebut disebut prose decoding.
Jadi, kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut harus sama-sama memiliki keterampilan, yaitu si pengirim harus memiliki keterampilan memilih lambang-lambang (bunyi/tulisan) guna menyampaikan pesan dan si penerima harus terampil memberi makna terhadap lambang (bunyi/tulisan) yang berisi pesan yang disampaikan.
Dalam berkomunikasi, si pengirim mungkin menyampaikan pesan berupa pikiran, perasaan, fakta, kehendak dengan menggunakan lambang-lambang berupa bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan. Dengan kata lain, dalam proses encoding, si pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi (bahasa lisan) tersebut disampaikan kepada penerima. Aktivitas tersebut biasa kita kenal dengan istilah berbicara.
Di pihak lain, si penerima melakukan aktivitas decoding berupa pengubahan bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi lisan tersebut kembali menjadi pesan. Aktivitas tersebut biasa kita sebut dengan istilah menyimak.
Ada pula pengirim menyampaikan pesan itu dengan menggunakan lambang-lambang berupa tulisan. Dalam proses encoding, si pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa tertulis, kemudaian dikirimkan kepada penerima. Aktivitas tersebut biasa kita kenal dengan istilah menulis.
Kemudian, si penerima dalam proses decoding berupaya memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis sehingga pesan dapat diterima secara utuh. Aktivitas tersebut kita kenal dengan istilah membaca.
Dalam kenyataan, aktivitas komunikasi dalam wujud berbicara, mendengarkan, menulis, dan membaca tidaklah sesederhana gambaran pada komunikasi yang bersifat satu arah. Komunikasi yang terjadi sering pula bersifat dua arah, seperti tergambar berikut ini.
Bahkan komunikasi sering pula terjadi dalam wujud multiarah.
Dalam komunikasi yang sesungguhnya, ketika melakukan prsose encoding si pengirm berada dalam konteks yang berupa ruang, waktu, peran, serta konteks budaya yang menjadi latar belakang keberhasilan suatu proses komunikasi sangat bergantung kepada proses encoding dan decoding yang sesuai dengan konteks komunikasi. Seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi sebagai pengirim pesan, dalam proses encoding ia terampil memilih bentuk-bentuk bahasa yang tepat, sesuai dengan konteks komunikasi. Kemudian, ia dapat dikatakan memiliki keterampilan berbahasa dalam posisi sebagai penerima pesan dalam proses decoding ia mampu mengubah bentuk-bentuk bahasa yang diterimanya dalam suatu konteks komunikasi menjadi pesan yang utuh, yang sama dengan yang dimaksudkan oleh si pengirim.
Dengan kata lain, seseorang dikatakan memiliki keterampilan berbicara apabila yang bersangkutan terampil memilih bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, serta tekanan dan nada) secara tepat serta menformulasikannya secara tepat pula guna menymapaikan pikiran, perasaan, gagasan, fakta, perbuatan dalam suatu konteks komunikasi. Kemudian, seseorang dikatakan terampil menyimak apabila yang bersangkutan memiliki kemampuan menafsirkan makna dari bunyi-bunyi bahasa (berupa kata, kalimat, tekanan, dan nada) yang disampaikan pembicara dalam suatu konteks komunikasi. Selanjutnya, seseorang dikatakan memiliki keterampilan menulis bila yang bersangkutan dapat memilih bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa kata, kalimat, paragraf) serta menggunakan retorika (organisasi tulisan) yang tepat guna mengutarakan pikiran, perasaan, gagasan, dan fakta. Seseorang dikatakan terampil membaca bila yang bersangkutan dapat menafsirkan makna dan bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa kata, kalimat, paragraf, dan organisasi tulisan) yang dibacanya.



Ada tanya yang tiada jawabnya
Bagaimana bisa
Keangkuhan menguasai jiwa
Nyatanya kerapuhan menyertainya

Ada tanya yang tiada jawabnya
Bagaimana bisa
Hati merasa leluasa
Nyatanya tekanan dalam batin selalu ada

Ahhh ....
Hidupnya penuh kepura-puraan

Kini muncul sebuah pertanyaan
Adakah ia merasa nyaman?
Sungguh
Bukan itu yang ia rasakan

Ada yang sangat ia rindukan
Sebuah ketenangan
Sebuah kedamaian

Pada akhirnya ia merasa jenuh
Bersimpuh
Di hadapan-Nya ia bersimpuh
Melepaskan jiwanya dari rasa angkuh


Kawan ...

Cobalah sejenak kau perhatikan
Sesuatu yang akan ku sampaikan
Tentang cinta dan ketidaksempurnaan

Kawan ...
Hatiku kelu
Setiap ku dengar apa yang kau ucapkan
Tentang negerimu!
Yang kerap kau bandingkan dengan negeri orang

Kawan ....
Ketahuilah
Negerimu juga negeriku
Bagaimana aku bisa
Tak peduli dengan ucapanmu
Yang tak hentinya membandingkan negeriku
Dengan negeri yang di sana kau pernah menginjakkan kakimu

Kawan ...
Benarlah
Sekalipun belum pernah ku pijakkan kaki
Selain di negeriku sendiri
Benarlah
Layaknya katak dalam tempurung
Duniaku tak lebih hanya negeriku sendiri
Namun demikian
Ku tetap tahu keindahan negeri orang

Kawan ...
Selama ini ku mencoba diam
Bukan karena ucapanmu ku benarkan
melainkan pertengkaran tidak ingin ku ciptakan

Kawan ...
Cintakah kau pada negerimu?
Banggakah kau pada tanah airmu?
Bukankah kau tahu
Negerimu jauh dari kata sempurna
Kenapa masih saja kau permasalahkan?

Kawan ...
Cacatnya negeriku
Jangan kau jadikan alasan
Untuk membandingkannya dengan negeri orang

Kawan ...
Apakah dengan membandingkan negeri ini dengan negeri orang
Dapat mewujudkan negeri yang lebih maju?
Apakah dengan menyalahkan orang-orang di atas sana
Dapat mewujudkan negeri yang lebih makmur?

Kawan ...
Jika itu yang kau pikirkan
Maka itu salah
Mereka bukan dewa melainkan manusia biasa
Sama seperti kita

Kawan
Sejenak renungkanlah
Seandainya kau berada di tempat mereka
Berada di posisi mereka
Akan lebih baikkah kamu?
Atau justru sebaliknya?
Bersikap bijaklah kawan
Dengan segala sesuatu yang tidak kamu tahu

Kawan ...
Saat ini bukan waktunya kita saling menyalahkan
Hal itu tidak akan memperbaiki keadaan
Melainkan justru memperburuk keadaan

Kawan ...
Cintamu pada negeri inilah yang dapat menjadi kekuatan
Cintamulah yang akan membawa negeri ini menuju perubahan
Bukan dengan mengumbar kecacatan negeri kita
Bukan pula dengan mengelu-elukan kesempurnaan negeri orang

Kawan ...
Bukan maksudku mengguruimu
Karena ku tahu kau lebih bijak dalam bersikap
Semoga tiada kesalahpahaman

Kawan ....
Aku sangat menghargai negeriku
Tak kan ku biarkan kau membandingkan negeriku
Dengan negeri yang kau elu-elukan di hadapanku
Walaupun negeri yang kau ceritakan layaknya istana
Sementara negeriku hanya gubuk sederhana
 Tapi tetap!!
Bagaimanapun adanya negeriku
Negeriku tetaplah tanah airku
Yang akan ku cintai selalu!

Maka inilah bukti cintaku:

Tanah airku tidak ku lupakan
Kan ku kenang selama hidupku
Biarkan aku pergi jauh
Tak akan hilang dari kalbu
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai

Walaupun banyak negeri ku jalani
Yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku banggakan

Tentang hati yang sunyi
Hampa tanpa makna

Selalu menerka
Bagaimana ia tercipta
Tanpa rasa
Datar ...

Akhirnya di keheningan
Ku temukan jawaban
Untuk siapa
Ruang hati tak berpenghuni ini

Untuk siapa
Dia pastinya
Sang Pengendali!

Tentang hati
Masih dan selalu di bawah kendali

Tentang Blog Saya

ketika lisan tak lagi tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, maka tulisan menjadi alternatif terbaik untuk mencurahkan semuanya

Mengenai Saya

Foto saya
Ketika ku dihadapkan pada masalah dan hampir membuatku menyerah, yang ku lakukan adalah berpasrah dan mengucap 'sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan'.