Tentang hati
yang sunyi
Hampa tanpa
makna
Selalu menerka
Bagaimana ia
tercipta
Tanpa rasa
Datar ...
Akhirnya di
keheningan
Ku temukan
jawaban
Untuk siapa
Ruang hati tak
berpenghuni ini
Untuk siapa
Dia pastinya
Sang
Pengendali!
Tentang hati
Masih dan
selalu di bawah kendali
Diposting oleh
Tri Setyaningsih
komentar (0)
Diposting oleh
Tri Setyaningsih
komentar (0)
Jalan Jogja
Wates
Tak pernah sepi dari kendaraan
Terkadang,
Berada di jalan menjadi hal yang membosankan
Tapi cobalah perhatikan
Di Sedayu, tepatnya di perempatan
Ada lampu lalu lintas
Yang tak jarang memaksa pengendara menghentikan
kendaraan
Jika lampu merah tentunya
Kembali lagi di perempatan Sedayu
Ada apalagi selain lampu lalu lintas?
Selokan kah?
Ya, selokan memang ada
Dari kemarin musim hujan sampai sekarang
Air masih mengalir melewati selokan itu
Tak jarang juga selokan itu menjadi penyebab
kerusakan jalan
Sehingga harus selalu ada perbaikan
Hemmmm,
Bukan lampu lalu lintas atau pun selokan
Yang harusnya diperhatikan
Cobalah perhatikan
Adakah pos polisi di sana?
Ya, tentu jika ada yang sempat memperhatikan
Pasti tahu di sana ada pos polisi
Lantas?
Cobalah perhatikan
Di depan pos polisi
Ada sesuatu yang berjajar rapi
Meski tidak setiap hari
Cobalah perhatikan
Kendaraan
Tidak tentu
Kadang satu
Dua
Kadang tidak ada sama sekali
Cobalah perhatikan
Kendaraan tak lagi berbentuk seperti semula
Cobalah perhatikan
Kendaraan itu milik pengendara yang mengalami
kecelakaan
Ya
Kecelakaan
Kecelakaan selalu menjadi ancaman
Bagi pengendara kendaraan
Ambillah pelajaran
Dari kendaraan yang di jajar rapi
Di depan pos polisi
Di perempatan Sedayu
Semoga dengan begitu
Kita selalu berhati-hati
Diposting oleh
Tri Setyaningsih
komentar (0)
Diam
Menjadi suatu pilihan
Mengapa?
Karena beban
Enggan ia ciptakan
Ketika jiwa manusia merasa,
Sendiri
Menjadi suatu kenyamanan
Mengapa?
Karena rapuh
Enggan ia tampakkan
Ketika jiwa manusia merasa,
Masih
Ketika jiwa manusia merasa
Menangis
Menjadi suatu kekuatan
Mengapa?
Karena ia akan jauh lebih tentram ketika bisa menangis
Menangis, menangis dan menangis
Karena jiwa manusia butuh menangis agar ia kuat
# bolehlah semalam kau menangis di hadapan Tuhanmu, namun keesokannya tetaplah tersenyum pada sesamamu
Diposting oleh
Tri Setyaningsih
komentar (1)
Keteraturan bahasa
Mari
kita berbahasa sambil bermain angka-kata untuk mengetahui bahwa bahasa yang kita pelajari itu memiliki dan
sekaligus mengajarkan keteraturan dan keindahan bahasa yang bernilai filosofis
yang bisa kita petik.
Lihat
dengan cermat! Bukankah penjumlahan angka-angka di bawah ini menunjukkn sebuah
keteraturan?
|
9
+ 1 = 10
|
Sembilan
|
Satu
|
Sepuluh
|
|
8
+ 2 = 10
|
Delapan
|
Dua
|
Sepuluh
|
|
7
+ 3 = 10
|
Tujuh
|
Tiga
|
sepuluh
|
|
6
+ 4 = 10
|
Enam
|
Empat
|
Sepuluh
|
|
5
+ 5 = 10
|
Lima
|
Lima
|
Sepuluh
|
Perhatikan
huruf yang ditebalkan. Jika dicermati, ternyata kedua huruf awal ‘nama bilangan’
yang dijumlahkan itu sama dan menghasilkan bilangan yang sama pula.
Inilah pesan
sekaligus pelajaran pertama, keteraturan bahasa yang diajarkan angka-kata
kepada kita.
Sejenak
kita merenung, ternyata angka-angka yang kita gunakan dan kita perlukan dalam
hidup dan selama hidup ini, sejatinya hanya berjumlah sepuluh angka saja. Yaitu
: 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,. Tetapi dengan
sepuluh angka itu, sudah cukup untuk mengatur segala kebutuhan hidup
kita yang bertalian dengan angka. Perlu bukti?
Lihatlah
nomor HP yang ada di phonebook Anda. Dari sekian banyak nomor, tidak ada
satupun nomor HP yang sama. Luar biasa bukan?
Sesungguhnya
ada pesan moral-spiritual dari angka dan kata yang layak kita renungi bersama. Anda,
misalnya mengirimkan SMS ke nomor HP teman Anda dengan nomor 022 815 74 231. Tetapi
Anda salah pijit. Yang seharusnya angka ujungnya 231, menjadi 321. Akan sampaikah
SMS itu kepada teman Anda? tentu tidak akan sampai bukan?!
Demikian
juga kalau Anda membeli suatu barang misalnya motor seharga 14,5 juta, tetapi
dikutansi tertulis 15,4 juta. Lalu Anda diminta menandatangani kuintansi itu. Apa
reaksi Anda? Apa yang terjadi bila manpulasi angka dan kata dianggap biasa?
Perhatikan
pula kata-kata berikut ini : BUNGA – BUANG, BERAS-BESAR. Apakah perbedaan
posisi huruf itu akan Anda anggap sama saja?
Sejatinya
angka dan kata itu mengajarkan ketertiban, keteraturan, kejujuran, kecermatan,
tanggung jawab serta disiplin kepada kita, para pemakai bahasa. Bayangkan saja
kalau angka dan kata itu digunakan seenaknya atau kita manipulasikan, maka apa
yang akan terjadi?
Bukankah
keterpurukan bangsa kita ini, karena terlalu banyak orang bermain angka dan
kata yang tidak apa adanya. Melainkan semau-mau
hawa nafsu sendiri (gemar memanipulasi anka-angka dan kata-kata) sekalipun
harus merugikan diri sendiri, orang lain dan negara.
Berbahasa
secara sederhanya bisa dikatakan hanya bermain angka dan kata. Siapa saja yang
terampil cerdas bermain angka dan kata dengan benar, mengikuti suara hati, maka
akan sukses dan mendapatkan penghargaan yang baik, dan pengakuan sosial yang
positif.
Tetapi sebaliknya,
siapa saja yang tidak pandai bermain angka dan kata dengan baik dan benar,
apalagi bila gemar memutarbalikkan fakta, memanipulasi angka dan kata secara
tidak bertanggung jawab, maka akan mendapat pengakuan yang tidak baik,
reputasinya akan hancur.
Artinya,
sikap santun berbahasa seseorang akan mendapatkan pengakuan/penghargaan positif
dari orang lain.
Daftar Pustaka
: Nurjamal, Daeng.,Warta Sumirat, & Riadi Darwis. 2011. Terampil Berbahasa. Bandung: Alfabeta.
Diposting oleh
Tri Setyaningsih
komentar (0)
A. Komponen-komponen keterampilan berbahasa
1) Kerampilan menyimak (Listening skills)
2) Keterampilan berbicara (speaking skills)
3) Keterampilan membaca (reading skills)
4) Keterampilan menulis (writing skills)
(Henry, 1981 : 1)
Setiap keterampilan berhubungan erat dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.
Hal ini tentu didukung adanya jalan praktek dan banyak latihan.
