Trie Setyaningsih

Banyak jalan menuju kesempurnaan

Ketika jiwa manusia merasa,

Diam 
Menjadi suatu pilihan
Mengapa?
Karena beban
Enggan ia ciptakan

Ketika jiwa manusia merasa,

Sendiri
Menjadi suatu kenyamanan
Mengapa?
Karena rapuh
Enggan ia tampakkan

Ketika jiwa manusia merasa,
Masih
Ketika jiwa manusia merasa

Menangis
Menjadi suatu kekuatan
Mengapa?
Karena ia akan jauh lebih tentram ketika bisa menangis


Menangis, menangis dan menangis


Karena jiwa manusia butuh menangis agar ia kuat



# bolehlah semalam kau menangis di hadapan Tuhanmu, namun keesokannya tetaplah tersenyum pada sesamamu

Keteraturan bahasa
Mari kita berbahasa sambil bermain angka-kata untuk mengetahui bahwa  bahasa yang kita pelajari itu memiliki dan sekaligus mengajarkan keteraturan dan keindahan bahasa yang bernilai filosofis yang bisa kita petik.
Lihat dengan cermat! Bukankah penjumlahan angka-angka di bawah ini menunjukkn sebuah keteraturan?

9 + 1 = 10
Sembilan
Satu
Sepuluh
8 + 2 = 10
Delapan
Dua
Sepuluh
7 + 3 = 10
Tujuh
Tiga
sepuluh
6 + 4 = 10
Enam
Empat
Sepuluh
5 + 5 = 10
Lima
Lima
Sepuluh

Perhatikan huruf yang ditebalkan. Jika dicermati, ternyata kedua huruf awal ‘nama bilangan’ yang dijumlahkan itu sama dan menghasilkan bilangan yang sama pula.
Inilah pesan sekaligus pelajaran pertama, keteraturan bahasa yang diajarkan angka-kata kepada kita.
Sejenak kita merenung, ternyata angka-angka yang kita gunakan dan kita perlukan dalam hidup dan selama hidup ini, sejatinya hanya berjumlah sepuluh angka saja. Yaitu : 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,. Tetapi dengan  sepuluh angka itu, sudah cukup untuk mengatur segala kebutuhan hidup kita yang bertalian dengan angka. Perlu bukti?
Lihatlah nomor HP yang ada di phonebook Anda. Dari sekian banyak nomor, tidak ada satupun nomor HP yang sama. Luar biasa bukan?
Sesungguhnya ada pesan moral-spiritual dari angka dan kata yang layak kita renungi bersama. Anda, misalnya mengirimkan SMS ke nomor HP teman Anda dengan nomor 022 815 74 231. Tetapi Anda salah pijit. Yang seharusnya angka ujungnya 231, menjadi 321. Akan sampaikah SMS itu kepada teman Anda? tentu tidak akan sampai bukan?!
Demikian juga kalau Anda membeli suatu barang misalnya motor seharga 14,5 juta, tetapi dikutansi tertulis 15,4 juta. Lalu Anda diminta menandatangani kuintansi itu. Apa reaksi Anda? Apa yang terjadi bila manpulasi angka dan kata dianggap biasa?
Perhatikan pula kata-kata berikut ini : BUNGA – BUANG, BERAS-BESAR. Apakah perbedaan posisi huruf itu akan Anda anggap sama saja?
Sejatinya angka dan kata itu mengajarkan ketertiban, keteraturan, kejujuran, kecermatan, tanggung jawab serta disiplin kepada kita, para pemakai bahasa. Bayangkan saja kalau angka dan kata itu digunakan seenaknya atau kita manipulasikan, maka apa yang akan terjadi?
Bukankah keterpurukan bangsa kita ini, karena terlalu banyak orang bermain angka dan kata yang tidak apa adanya.  Melainkan semau-mau hawa nafsu sendiri (gemar memanipulasi anka-angka dan kata-kata) sekalipun harus merugikan diri sendiri, orang lain dan negara.
Berbahasa secara sederhanya bisa dikatakan hanya bermain angka dan kata. Siapa saja yang terampil cerdas bermain angka dan kata dengan benar, mengikuti suara hati, maka akan sukses dan mendapatkan penghargaan yang baik, dan pengakuan sosial yang positif.
Tetapi sebaliknya, siapa saja yang tidak pandai bermain angka dan kata dengan baik dan benar, apalagi bila gemar memutarbalikkan fakta, memanipulasi angka dan kata secara tidak bertanggung jawab, maka akan mendapat pengakuan yang tidak baik, reputasinya akan hancur.
Artinya, sikap santun berbahasa seseorang akan mendapatkan pengakuan/penghargaan positif dari orang lain.
Daftar Pustaka : Nurjamal, Daeng.,Warta Sumirat, & Riadi Darwis. 2011. Terampil Berbahasa. Bandung: Alfabeta.

A. Komponen-komponen keterampilan berbahasa 
    1) Kerampilan menyimak (Listening skills)
    2) Keterampilan berbicara (speaking skills) 
    3) Keterampilan membaca (reading skills) 
    4) Keterampilan menulis (writing skills)
       (Henry, 1981 : 1) 

  Setiap keterampilan berhubungan erat dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa   seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Hal ini tentu didukung adanya jalan praktek dan banyak latihan.

Tentang Blog Saya

ketika lisan tak lagi tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, maka tulisan menjadi alternatif terbaik untuk mencurahkan semuanya

Mengenai Saya

Foto saya
Ketika ku dihadapkan pada masalah dan hampir membuatku menyerah, yang ku lakukan adalah berpasrah dan mengucap 'sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan'.