Trie Setyaningsih

Banyak jalan menuju kesempurnaan



Ada tanya yang tiada jawabnya
Bagaimana bisa
Keangkuhan menguasai jiwa
Nyatanya kerapuhan menyertainya

Ada tanya yang tiada jawabnya
Bagaimana bisa
Hati merasa leluasa
Nyatanya tekanan dalam batin selalu ada

Ahhh ....
Hidupnya penuh kepura-puraan

Kini muncul sebuah pertanyaan
Adakah ia merasa nyaman?
Sungguh
Bukan itu yang ia rasakan

Ada yang sangat ia rindukan
Sebuah ketenangan
Sebuah kedamaian

Pada akhirnya ia merasa jenuh
Bersimpuh
Di hadapan-Nya ia bersimpuh
Melepaskan jiwanya dari rasa angkuh


Kawan ...

Cobalah sejenak kau perhatikan
Sesuatu yang akan ku sampaikan
Tentang cinta dan ketidaksempurnaan

Kawan ...
Hatiku kelu
Setiap ku dengar apa yang kau ucapkan
Tentang negerimu!
Yang kerap kau bandingkan dengan negeri orang

Kawan ....
Ketahuilah
Negerimu juga negeriku
Bagaimana aku bisa
Tak peduli dengan ucapanmu
Yang tak hentinya membandingkan negeriku
Dengan negeri yang di sana kau pernah menginjakkan kakimu

Kawan ...
Benarlah
Sekalipun belum pernah ku pijakkan kaki
Selain di negeriku sendiri
Benarlah
Layaknya katak dalam tempurung
Duniaku tak lebih hanya negeriku sendiri
Namun demikian
Ku tetap tahu keindahan negeri orang

Kawan ...
Selama ini ku mencoba diam
Bukan karena ucapanmu ku benarkan
melainkan pertengkaran tidak ingin ku ciptakan

Kawan ...
Cintakah kau pada negerimu?
Banggakah kau pada tanah airmu?
Bukankah kau tahu
Negerimu jauh dari kata sempurna
Kenapa masih saja kau permasalahkan?

Kawan ...
Cacatnya negeriku
Jangan kau jadikan alasan
Untuk membandingkannya dengan negeri orang

Kawan ...
Apakah dengan membandingkan negeri ini dengan negeri orang
Dapat mewujudkan negeri yang lebih maju?
Apakah dengan menyalahkan orang-orang di atas sana
Dapat mewujudkan negeri yang lebih makmur?

Kawan ...
Jika itu yang kau pikirkan
Maka itu salah
Mereka bukan dewa melainkan manusia biasa
Sama seperti kita

Kawan
Sejenak renungkanlah
Seandainya kau berada di tempat mereka
Berada di posisi mereka
Akan lebih baikkah kamu?
Atau justru sebaliknya?
Bersikap bijaklah kawan
Dengan segala sesuatu yang tidak kamu tahu

Kawan ...
Saat ini bukan waktunya kita saling menyalahkan
Hal itu tidak akan memperbaiki keadaan
Melainkan justru memperburuk keadaan

Kawan ...
Cintamu pada negeri inilah yang dapat menjadi kekuatan
Cintamulah yang akan membawa negeri ini menuju perubahan
Bukan dengan mengumbar kecacatan negeri kita
Bukan pula dengan mengelu-elukan kesempurnaan negeri orang

Kawan ...
Bukan maksudku mengguruimu
Karena ku tahu kau lebih bijak dalam bersikap
Semoga tiada kesalahpahaman

Kawan ....
Aku sangat menghargai negeriku
Tak kan ku biarkan kau membandingkan negeriku
Dengan negeri yang kau elu-elukan di hadapanku
Walaupun negeri yang kau ceritakan layaknya istana
Sementara negeriku hanya gubuk sederhana
 Tapi tetap!!
Bagaimanapun adanya negeriku
Negeriku tetaplah tanah airku
Yang akan ku cintai selalu!

Maka inilah bukti cintaku:

Tanah airku tidak ku lupakan
Kan ku kenang selama hidupku
Biarkan aku pergi jauh
Tak akan hilang dari kalbu
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai

Walaupun banyak negeri ku jalani
Yang mahsyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku banggakan

Tentang hati yang sunyi
Hampa tanpa makna

Selalu menerka
Bagaimana ia tercipta
Tanpa rasa
Datar ...

Akhirnya di keheningan
Ku temukan jawaban
Untuk siapa
Ruang hati tak berpenghuni ini

Untuk siapa
Dia pastinya
Sang Pengendali!

Tentang hati
Masih dan selalu di bawah kendali


Jalan Jogja Wates

Tak pernah sepi dari kendaraan
Terkadang,
Berada di jalan menjadi hal yang membosankan

Tapi cobalah perhatikan
Di Sedayu, tepatnya di perempatan
Ada lampu lalu lintas
Yang tak jarang memaksa pengendara menghentikan kendaraan
Jika lampu merah tentunya

Kembali lagi di perempatan Sedayu
Ada apalagi selain lampu lalu lintas?
Selokan kah?
Ya, selokan memang ada
Dari kemarin musim hujan sampai sekarang
Air masih mengalir melewati selokan itu
Tak jarang juga selokan itu menjadi penyebab kerusakan jalan
Sehingga harus selalu ada perbaikan

Hemmmm,
Bukan lampu lalu lintas atau pun selokan
Yang harusnya diperhatikan

Cobalah perhatikan
Adakah pos polisi di sana?
Ya, tentu jika ada yang sempat memperhatikan
Pasti tahu di sana ada pos polisi
Lantas?
Cobalah perhatikan
Di depan pos polisi
Ada sesuatu yang berjajar rapi
Meski tidak setiap hari

Cobalah perhatikan
Kendaraan
Tidak tentu
Kadang satu
Dua  
Kadang tidak ada sama sekali

Cobalah perhatikan
Kendaraan tak lagi berbentuk seperti semula

Cobalah perhatikan
Kendaraan itu milik pengendara yang mengalami kecelakaan
Ya
Kecelakaan

Kecelakaan selalu menjadi ancaman
Bagi pengendara kendaraan

Ambillah pelajaran
Dari kendaraan yang di jajar rapi
Di depan pos polisi
Di perempatan Sedayu
Semoga dengan begitu
Kita selalu berhati-hati


Ketika jiwa manusia merasa,

Diam 
Menjadi suatu pilihan
Mengapa?
Karena beban
Enggan ia ciptakan

Ketika jiwa manusia merasa,

Sendiri
Menjadi suatu kenyamanan
Mengapa?
Karena rapuh
Enggan ia tampakkan

Ketika jiwa manusia merasa,
Masih
Ketika jiwa manusia merasa

Menangis
Menjadi suatu kekuatan
Mengapa?
Karena ia akan jauh lebih tentram ketika bisa menangis


Menangis, menangis dan menangis


Karena jiwa manusia butuh menangis agar ia kuat



# bolehlah semalam kau menangis di hadapan Tuhanmu, namun keesokannya tetaplah tersenyum pada sesamamu

Keteraturan bahasa
Mari kita berbahasa sambil bermain angka-kata untuk mengetahui bahwa  bahasa yang kita pelajari itu memiliki dan sekaligus mengajarkan keteraturan dan keindahan bahasa yang bernilai filosofis yang bisa kita petik.
Lihat dengan cermat! Bukankah penjumlahan angka-angka di bawah ini menunjukkn sebuah keteraturan?

9 + 1 = 10
Sembilan
Satu
Sepuluh
8 + 2 = 10
Delapan
Dua
Sepuluh
7 + 3 = 10
Tujuh
Tiga
sepuluh
6 + 4 = 10
Enam
Empat
Sepuluh
5 + 5 = 10
Lima
Lima
Sepuluh

Perhatikan huruf yang ditebalkan. Jika dicermati, ternyata kedua huruf awal ‘nama bilangan’ yang dijumlahkan itu sama dan menghasilkan bilangan yang sama pula.
Inilah pesan sekaligus pelajaran pertama, keteraturan bahasa yang diajarkan angka-kata kepada kita.
Sejenak kita merenung, ternyata angka-angka yang kita gunakan dan kita perlukan dalam hidup dan selama hidup ini, sejatinya hanya berjumlah sepuluh angka saja. Yaitu : 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9,. Tetapi dengan  sepuluh angka itu, sudah cukup untuk mengatur segala kebutuhan hidup kita yang bertalian dengan angka. Perlu bukti?
Lihatlah nomor HP yang ada di phonebook Anda. Dari sekian banyak nomor, tidak ada satupun nomor HP yang sama. Luar biasa bukan?
Sesungguhnya ada pesan moral-spiritual dari angka dan kata yang layak kita renungi bersama. Anda, misalnya mengirimkan SMS ke nomor HP teman Anda dengan nomor 022 815 74 231. Tetapi Anda salah pijit. Yang seharusnya angka ujungnya 231, menjadi 321. Akan sampaikah SMS itu kepada teman Anda? tentu tidak akan sampai bukan?!
Demikian juga kalau Anda membeli suatu barang misalnya motor seharga 14,5 juta, tetapi dikutansi tertulis 15,4 juta. Lalu Anda diminta menandatangani kuintansi itu. Apa reaksi Anda? Apa yang terjadi bila manpulasi angka dan kata dianggap biasa?
Perhatikan pula kata-kata berikut ini : BUNGA – BUANG, BERAS-BESAR. Apakah perbedaan posisi huruf itu akan Anda anggap sama saja?
Sejatinya angka dan kata itu mengajarkan ketertiban, keteraturan, kejujuran, kecermatan, tanggung jawab serta disiplin kepada kita, para pemakai bahasa. Bayangkan saja kalau angka dan kata itu digunakan seenaknya atau kita manipulasikan, maka apa yang akan terjadi?
Bukankah keterpurukan bangsa kita ini, karena terlalu banyak orang bermain angka dan kata yang tidak apa adanya.  Melainkan semau-mau hawa nafsu sendiri (gemar memanipulasi anka-angka dan kata-kata) sekalipun harus merugikan diri sendiri, orang lain dan negara.
Berbahasa secara sederhanya bisa dikatakan hanya bermain angka dan kata. Siapa saja yang terampil cerdas bermain angka dan kata dengan benar, mengikuti suara hati, maka akan sukses dan mendapatkan penghargaan yang baik, dan pengakuan sosial yang positif.
Tetapi sebaliknya, siapa saja yang tidak pandai bermain angka dan kata dengan baik dan benar, apalagi bila gemar memutarbalikkan fakta, memanipulasi angka dan kata secara tidak bertanggung jawab, maka akan mendapat pengakuan yang tidak baik, reputasinya akan hancur.
Artinya, sikap santun berbahasa seseorang akan mendapatkan pengakuan/penghargaan positif dari orang lain.
Daftar Pustaka : Nurjamal, Daeng.,Warta Sumirat, & Riadi Darwis. 2011. Terampil Berbahasa. Bandung: Alfabeta.

Tentang Blog Saya

ketika lisan tak lagi tepat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan, maka tulisan menjadi alternatif terbaik untuk mencurahkan semuanya

Mengenai Saya

Foto saya
Ketika ku dihadapkan pada masalah dan hampir membuatku menyerah, yang ku lakukan adalah berpasrah dan mengucap 'sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan'.